
Pemerintah Tingkatkan Bedah Rumah dan Dukung UMKM
14 menit yang lalu
Pemulihan infrastruktur dan layanan dasar pascabanjir Sumatera terus maju, namun ancaman banjir susulan masih ada.
Terbit · 2 min read

Menurut laporan ANTARA, Menteri Dalam Negeri sekaligus Ketua Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatera Tito Karnavian menyatakan pemulihan infrastruktur dan layanan dasar di tiga provinsi di Sumatera yang terdampak banjir pada akhir November 2025 terus menunjukkan kemajuan.
Dalam keterangan resmi Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI yang dikutip ANTARA, Tito menjelaskan bahwa jalan dan jembatan yang terdampak secara umum telah kembali berfungsi. Perbaikan itu dilakukan melalui kerja sama Kementerian Pekerjaan Umum (PU), Tentara Nasional Indonesia (TNI), Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri), dan berbagai unsur lainnya.
Pernyataan tersebut disampaikan Tito saat membuka Rapat Koordinasi Percepatan Pelaksanaan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Alam di Sumatera pada Senin (26/10/2026). “Jembatan, jalan rata-rata semuanya sudah fungsional, kecuali beberapa jembatan daerah dan ini dikeroyok semua, baik oleh PU, TNI, Polri semua bergerak,” kata Tito. Menurut laporan yang sama, sejumlah jembatan daerah masih memerlukan penanganan lebih lanjut karena beberapa di antaranya kembali terdampak bencana susulan.
Selain infrastruktur, layanan dasar di wilayah terdampak juga berangsur pulih. Tito mencontohkan aktivitas pemerintahan di Kabupaten Aceh Tamiang, salah satu wilayah yang terdampak paling parah, yang sebelumnya terganggu timbunan lumpur dan kini telah kembali berjalan.
Layanan komunikasi seluler telah pulih dan sebagian besar fasilitas kesehatan kembali beroperasi. Meski begitu, enam puskesmas pembantu di Sumatera Utara masih memerlukan penanganan lebih lanjut.
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Sugiono, dalam rapat yang sama, mengatakan pembangunan kembali sekolah terdampak serta penyediaan hunian tetap dan hunian sementara berjalan sesuai rencana. Berdasarkan laporan kepala daerah dan perkembangan di lapangan, ia menyebut realisasi rehabilitasi dan rekonstruksi telah mencapai 96–98 persen dari target. "Memang, (rehabilitasi dan rekonstruksi) di beberapa tempat harus kami lakukan akselerasi, tapi saya kira semua itu bisa terlaksana dengan baik sesuai dengan yang kami harapkan," jelas Sugiono.
Data Satgas PRR per 26 Oktober 2026 mencatat banjir tersebut berdampak pada 53 kabupaten/kota, 498 kecamatan, dan 4.533 desa/kelurahan. Seluruh pengungsi yang sebelumnya berjumlah lebih dari 2 juta jiwa kini telah kembali ke rumah atau tempat tinggal lainnya, sehingga tidak ada lagi pengungsi yang tinggal di tenda.
Tito mengingatkan bahwa wilayah terdampak masih berpotensi mengalami banjir susulan seiring tingginya curah hujan menjelang akhir tahun. Banjir susulan telah terjadi di Kota Padang, Kabupaten Solok, Kabupaten Tapanuli Tengah, Kabupaten Aceh Tenggara, Kabupaten Pidie Jaya, dan Kabupaten Aceh Tamiang, sehingga sejumlah ruas jalan dan jembatan yang sebelumnya diperbaiki kembali rusak.
Untuk mengantisipasinya, pemerintah akan memprioritaskan normalisasi 137 sungai di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat guna mengurangi sedimentasi yang berisiko mempersempit aliran sungai. Tito meminta Kementerian PU mempercepat penanganan sungai yang mengalami sedimentasi. “Begitu sedimennya tinggi, ada curah hujan tinggi, dia meluber menjadi banjir. Artinya ada terus susulan-susulan (bencana) dan kita sedang bekerja (menangani itu),” katanya.