
Wamenkeu Ingatkan Risiko Penggunaan AI
13 menit yang lalu
Pelatihan membahas teknik pascapanen, mutu kopi, pengeringan, dan perhitungan biaya usaha tani.
Terbit · 2 min read

Tim Pengabdian Desa Binaan Nagari Panti Selatan dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Andalas (LPPM Unand) melatih petani di Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat, dalam pengolahan kopi pascapanen. Menurut laporan ANTARA, Koordinator Tim Pengabdian Khairil Agustoria mengatakan pelatihan itu diharapkan membantu petani menerapkan teknik pengolahan setelah panen secara tepat. Keterangan tersebut diterima di Padang pada Kamis (29/10/2026).
Khairil menyatakan kegiatan tersebut bertujuan memperkuat kemampuan petani mengelola hasil panen agar menghasilkan biji kopi berkualitas dan memenuhi standar pasar. Materinya mencakup petik merah dan sortasi, penanganan pascapanen, mutu kopi ekspor, perhitungan mutu grade kopi, serta pemanfaatan alat pengering berbentuk kubah yang dirancang bersama tim.
Petani diperkenalkan pada tahapan penanganan kopi sejak pemilihan buah di kebun hingga pengeringan. Materi pelatihan menyebut kualitas kopi sangat ditentukan oleh perlakuan sejak buah dipetik, sedangkan petik merah dan sortasi menjadi langkah awal yang memengaruhi harga serta daya saing di pasar domestik dan ekspor.
Khairil mengutip pandangan Wakil Gubernur Sumatera Barat Vasko Ruseimy mengenai transformasi pertanian. Menurut pandangan tersebut, transformasi dapat diwujudkan dengan memperhatikan seluruh proses pascapanen, mulai dari metode panen hingga penerapan teknologi tepat guna.
Tim pengabdian berupaya merancang mesin pertanian kopi yang sesuai dengan kebutuhan petani. Menurut Khairil, teknologi yang dikembangkan tidak hanya mempertimbangkan sensor dan perangkat elektronik, tetapi juga kemudahan pengoperasian agar masyarakat dapat menggunakan dan merawatnya secara mandiri.
Khairil menilai transformasi kopi lokal, khususnya di Nagari Panti Selatan, masih menghadapi persoalan mendasar yang perlu diselesaikan secara bertahap dengan dukungan berbagai pihak. Ia mengatakan, “Pekerjaan ini bukan sesuatu yang mudah. Segelintir masalah hari ini tidak bisa langsung selesai esok hari, tapi setidaknya kita mulai mencicilnya. Kalau kita mau berusaha, pasti bisa,” kata dia.
Pemateri dari tim pengabdian, Yulinda, PhD, mengatakan petani perlu menghitung biaya usaha tani untuk mengetahui keuntungan dan mengambil keputusan usaha secara tepat. Ia menilai pencatatan serta analisis biaya dapat membantu petani mengelola usaha secara terukur dan memperoleh hasil yang layak.
Tim pengabdian berkomitmen mendampingi masyarakat Nagari Panti Selatan secara berkelanjutan, termasuk melalui pelatihan dan penyediaan teknologi sesuai kebutuhan petani setempat. Tim juga berharap petani dapat menerapkan praktik pascapanen yang baik, menghasilkan kopi bermutu ekspor, serta meningkatkan pendapatan secara berkelanjutan. Pelatihan yang diketuai Dr. Nofialdi itu dihadiri Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Barat Ferdinal Asmin, wali nagari Panti Selatan dan Panti Timur, petani kopi, serta tim pengabdian LPPM Unand.