
Pangsa Pasar Mobil Listrik Naik Jadi 16,88 Persen
12 menit yang lalu
Kenaikan harga nikel dinilai dapat memperkuat pendapatan dan laba Antam, tetapi prospeknya bergantung pada sejumlah faktor pasar dan produksi.
Terbit · 2 min read

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji Gusta menilai kenaikan harga nikel berpotensi menambah pendapatan dan laba PT Aneka Tambang Tbk (Antam). Menurut laporan ANTARA, Nafan menyampaikan hal itu dalam pernyataan di Jakarta pada Rabu (28/10/2026).
Ia mengatakan kenaikan harga nikel dapat meningkatkan harga jual rata-rata produk nikel Antam, sehingga margin keuntungan dan profitabilitas segmen tersebut ikut menguat.
Nafan menyebut penguatan harga juga dapat memperbaiki ekspektasi investor terhadap prospek laba dan mendorong penilaian ulang saham ANTM. Namun, ia mengatakan keberlanjutan pengaruh tersebut bergantung pada konsistensi kenaikan harga, volume penjualan, biaya produksi, serta kebijakan kuota produksi dan hilirisasi.
Investor juga perlu mencermati risiko kelebihan pasokan global yang dapat membatasi kenaikan harga. Menurut Nafan, konfirmasi tren harga nikel dan kinerja keuangan tetap diperlukan sebelum menyimpulkan kenaikan saham akan berlanjut; harga nikel tercatat sekitar 16.000 dolar AS per ton di London Metal Exchange.
Hingga September 2026, Antam membukukan laba bersih Rp9,66 triliun, naik 46 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, sebesar Rp6,61 triliun. Pendapatan perseroan meningkat 23 persen menjadi Rp88,4 triliun dari Rp72 triliun.
Penjualan domestik mencapai Rp83,86 triliun atau 95 persen dari total pendapatan, meningkat 21 persen. Penjualan tersebut mencerminkan kuatnya penyerapan emas, bijih nikel, dan bijih bauksit.
Segmen nikel, yang mencakup feronikel dan bijih nikel, menyumbang 19 persen terhadap pendapatan hingga September 2026. Pendapatannya mencapai Rp16,98 triliun, naik 52 persen dari Rp11,15 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Hingga September 2026, produksi bijih nikel Antam mencapai 12,16 juta ton metrik basah, dengan penjualan 10,73 juta ton metrik basah. Produksi feronikel tercatat 11.638 ton nikel dalam feronikel, sedangkan penjualannya mencapai 13.971 ton, meningkat 71 persen dibandingkan 8.182 ton pada periode yang sama tahun sebelumnya.
BNI Sekuritas memprediksi laba bersih Antam tumbuh 92 persen menjadi Rp12,4 triliun pada 2026 dan menilai saham perseroan diperdagangkan dengan rasio harga terhadap laba 5,3 kali. Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Antam Arini Kasmira mengatakan kontribusi bisnis nikel pada semester I 2026 menunjukkan pentingnya diversifikasi portofolio komoditas.
Arini menyatakan, “Penguatan kontribusi bisnis nikel pada semester I 2026 menjadi bagian dari upaya perseroan menjaga keseimbangan portofolio di tengah dinamika pasar komoditas.” Ia mengatakan Antam akan mencermati perkembangan pasar dan menjaga fleksibilitas strategi untuk mengoptimalkan potensi tiap komoditas. Arini juga menyebut perseroan berfokus pada pertumbuhan, efisiensi, dan pengembangan bisnis yang terukur.