
Imigrasi Amankan 21 WNA di Bali
11 menit yang lalu
Arifah mendorong dukungan bagi kesempatan ekonomi perempuan dan pengasuhan anak yang berkualitas.
Terbit · 2 min read

Menurut laporan ANTARA, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifah Fauzi mendorong perluasan kesempatan ekonomi bagi perempuan agar keberhasilannya juga dirasakan keluarga. Ia menyampaikan hal itu dalam Dialog Kebijakan International Day of Care and Support di Jakarta, Kamis (29/10/2026).
Arifah menjadi pembicara kunci dalam dialog yang diselenggarakan melalui pertemuan daring. Ia mengajak menjadikan pengasuhan anak bagian dari upaya membangun dunia kerja yang lebih setara, produktif, dan ramah keluarga.
Arifah mengatakan pemerintah berperan memperkuat kebijakan dan koordinasi dengan dunia usaha untuk memberikan kesempatan bagi perempuan dalam bekerja. Menurutnya, hal itu dapat mendukung inovasi dan penerapan praktik nyata di tempat kerja.
Ia juga menyebut asosiasi, penyedia layanan pengasuhan, organisasi masyarakat sipil, peneliti, dan mitra pembangunan perlu terlibat untuk mengidentifikasi hambatan serta merumuskan solusi sesuai kebutuhan lapangan.
Arifah mengatakan, "Laki-laki harus terlibat dalam pengasuhan anak, sehingga anak-anak juga memperoleh pengasuhan yang sama serta berkualitas." Ia juga menyampaikan, "Kita juga perlu bergerak dari pengalaman menuju pembelajaran dan dari pembelajaran menuju aksi nyata."
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia sekaligus pendiri Indonesia Business Coalition for Women Empowerment, Shinta Kamdani, mengatakan tanggung jawab perawatan masih lebih banyak dipikul perempuan. Studi Organisasi Perburuhan Internasional berdasarkan survei terhadap 493 responden pada Oktober hingga November 2025 menyebut tanggung jawab perawatan dalam keluarga masih salah satu hambatan utama perempuan untuk maju dan berkembang dalam karier.
Shinta Kamdani mengatakan, "Sebanyak 42,1 persen responden di level manajemen puncak, 47,1 persen di level manajemen senior, dan 40,4 persen di level manajemen menengah menyebutnya sebagai hambatan utama." Menurutnya, ketika perempuan harus memilih antara tanggung jawab keluarga dan peluang karier, perusahaan juga kehilangan kesempatan untuk mengembangkan talenta terbaiknya.
Shinta mengatakan persoalan perawatan bukan sekadar isu perempuan, tetapi juga berkaitan dengan talenta, produktivitas, kemampuan berinovasi, dan keberlanjutan bisnis. Ia menyebut pemerintah perlu menyediakan kebijakan dan panduan, penyedia layanan mendukung pengasuhan yang berkualitas dan terjangkau, serta pekerja laki-laki ikut berbagi tanggung jawab perawatan.