
Ruben Onsu Belum Sepakati Proposal Damai Sarwendah
9 menit yang lalu
Pemerintah masih menilai kelayakan lokasi dan mitra sebelum memutuskan pengembangan PLTN.
Terbit · 1 min read

Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia mengatakan pemerintah mengkaji pengembangan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) di sejumlah wilayah, termasuk Kepulauan Riau (Kepri), untuk mendukung ketahanan energi nasional. Menurut laporan ANTARA yang terbit Senin (26/10/2026), penentuan lokasi masih dalam tahap kajian dan perhitungan kelayakan.
Bahlil menyampaikan keterangan itu di Jakarta pada Senin. Selain Kepri, lokasi yang dikaji mencakup Halmahera, Kalimantan, dan Sumatera.
Pemerintah telah menjalin kerja sama dengan beberapa negara terkait rencana pengembangan PLTN. Untuk Halmahera, Bahlil menyebut kemungkinan kerja sama dengan Rusia masih dikaji.
Bahlil mengatakan pemerintah akan menyelesaikan kajian kelayakan sebelum mengambil keputusan. “Ini kita kaji dulu, kita sedang mempertimbangkan, kalau sudah lolos FS-nya, baru kita lakukan,” katanya.
Ia menambahkan, negara yang akan menjadi mitra pengembangan nuklir harus memiliki kemampuan serta rekam jejak yang teruji di bidang tersebut.
Sebelumnya, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengatakan riset nuklir oleh BRIN dan lembaga pemerintah lain diarahkan untuk kebutuhan energi dan kesehatan, termasuk pembangunan PLTN. Prasetyo juga menjabat sebagai Juru Bicara Presiden RI.
BRIN memamerkan hasil riset dan inovasi nuklir di Istana Kepresidenan RI pada 6 Agustus 2026, termasuk kesiapan teknologi untuk mendukung pembangunan PLTN. Dalam pameran itu, peneliti BRIN menyampaikan Indonesia memiliki potensi uranium hingga 89.000 ton dan thorium 143.000 ton, serta telah berhasil memurnikan uranium hingga 60 persen.