
Wall Street Tertekan Usai Kemenangan Demokrat
11 menit yang lalu
Tekanan pasar saham AS, likuidasi posisi dengan daya ungkit, dan arus keluar ETF menjadi faktor yang dibahas dalam analisis.
Terbit · 1 min read

Pasar kripto kembali tertekan pada perdagangan Jumat (6/11/2026), setelah aksi jual di bursa saham Amerika Serikat (AS). Menurut laporan CNBC Indonesia Research, Bitcoin turun 5,54 persen dalam 24 jam menjadi US$76.188,62, sedangkan Ethereum melemah 7,72 persen ke US$2.242,37.
Pelemahan itu terjadi setelah Wall Street ditutup turun pada Kamis waktu AS. Nasdaq Composite merosot 5,52 persen, S&P 500 turun 4,36 persen, dan Dow Jones melemah 3,44 persen.
Laporan tersebut mengaitkan tekanan saham AS dengan kekhawatiran atas kelanjutan pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan. Kemenangan Demokrat dalam pemilu sela meningkatkan ekspektasi pengawasan terhadap pusat data, kebutuhan listrik, dan dampaknya terhadap biaya masyarakat.
Menurut analisis CNBC Indonesia Research, Bitcoin memiliki hubungan dengan pasar saham AS yang kekuatannya berubah dari waktu ke waktu. Keterkaitan aset kripto dan saham cenderung meningkat saat pasar tertekan dan investor mengurangi risiko, antara lain karena investor serta likuiditas yang sama.
Laporan itu juga menyebut tekanan pasar derivatif. Data yang dikutip untuk sesi perdagangan 5 November 2026 mencatat likuidasi kripto sekitar US$1,03 miliar dalam 24 jam; penutupan paksa posisi beli dengan daya ungkit dapat menambah tekanan jual dan memicu likuidasi berikutnya.
Arus keluar ETF Bitcoin berbasis aset langsung di AS tercatat sekitar US$1,16 miliar pada 30 Oktober hingga 3 November 2026, menurut laporan tersebut. Peretasan Binance pada 29 Oktober 2026 turut disebut membebani kepercayaan, tetapi analisis itu menyatakan belum cukup dasar untuk menganggapnya sebagai penyebab tunggal penurunan terbaru.
Laporan CNBC Indonesia Research juga membahas potensi dampak kekhawatiran pusat data terhadap penambangan Bitcoin, yang membutuhkan banyak listrik dan fasilitas pendingin. Namun, laporan itu menyebut belum ada dasar untuk menyatakan penurunan harga terbaru disebabkan pembatasan penambangan yang sudah diterapkan.
Analisis tersebut menilai area US$75.000-US$76.000 sebagai tingkat dukungan yang perlu diperhatikan. Jika area itu tidak bertahan, Bitcoin berpotensi turun ke US$70.000, sementara stabilisasi saham AS dinilai dapat membantu Bitcoin membentuk pijakan kembali.