
Jokowi Tunjukkan Ijazah di Sidang Roy Suryo
13 menit yang lalu
Harga Brent dan WTI melemah di tengah harapan pasar terhadap meredanya konflik AS-Israel dengan Iran.
Terbit · 2 min read

Harga minyak mentah dunia turun lebih dari 1 persen pada perdagangan awal Kamis (5/11/2026), di tengah ekspektasi pasar bahwa kekalahan Partai Republik dalam pemilu sela Amerika Serikat dapat mengurangi ketegangan geopolitik. Menurut laporan CNNIndonesia.com yang merujuk Reuters, harga Brent dan West Texas Intermediate (WTI) sama-sama melemah.
Pada pukul 09.11 WIB, harga minyak berjangka Brent turun 97 sen atau 1,03 persen menjadi US$93,65 per barel. WTI turun US$1,14 atau 1,29 persen ke US$86,98 per barel.
Ekspektasi pasar itu berkaitan dengan kemungkinan berkurangnya ruang bagi Presiden AS Donald Trump untuk menggunakan opsi militer setelah Partai Demokrat menguasai Kongres. Menurut laporan yang sama, dua sumber Reuters yang dekat dengan pemerintahan negara-negara Teluk menyebut dinamika politik tersebut dapat mendorong Trump mencari kesepakatan damai.
Sumber-sumber itu menyampaikan pandangan tersebut pada Rabu (4/11/2026). Mereka menilai kemungkinan serangan skala penuh terhadap Iran semakin kecil, sementara penyelesaian konflik berpotensi memulihkan pasokan minyak dari Timur Tengah.
Analis Minyak Senior Sparta Commodities June Goh mengatakan pasar sedang menilai dampak pemilu sela terhadap langkah Trump terkait perang Iran dan peluang berakhirnya konflik. “Pasar sedang menakar dampak pemilu paruh waktu (midterm elections) terhadap langkah Trump selanjutnya terkait perang Iran dan memperhitungkan peluang yang lebih besar bagi berakhirnya perang tersebut,” ujar Goh.
Goh mengingatkan harga masih berpotensi bergejolak karena jalan menuju diplomasi penuh belum pasti dan cadangan strategis global menipis. Sementara itu, sejumlah analis menyebut pengiriman minyak melalui Selat Hormuz telah pulih mendekati tingkat sebelum perang, meski biaya operasionalnya lebih tinggi.
Pemulihan pasokan dari kawasan Teluk turut mendorong surplus di pasar minyak. Dalam catatan yang dirilis Rabu, JPMorgan memperkirakan surplus mencapai 1,1 juta barel per hari pada September dan 1,4 juta barel per hari pada Oktober, mendekati rata-rata surplus tahun lalu sebesar 1,3 juta barel per hari.
CEO perusahaan konsultan energi XAnalysts Mukesh Sahdev menilai tekanan harga setelah pemilu tidak serta-merta berlanjut. Menurut laporan yang sama, ia menyebut risiko geopolitik sulit diprediksi, anggota Kongres baru akan resmi menjabat pada Januari 2027, dan Iran mungkin merespons hasil pemilu dengan perlawanan lebih agresif.
Sahdev juga menyoroti persediaan minyak komersial di negara-negara konsumen utama yang berada pada tingkat terendah dalam 15 tahun. Data Badan Informasi Energi AS yang dikutip sumber melaporkan persediaan minyak mentah, bensin, dan distilat AS turun pada pekan sebelumnya, seiring permintaan mencapai tingkat tertinggi dalam setahun.