
Erick Thohir Dorong Transformasi Fotografi Olahraga
19 menit yang lalu
Perak naik 5,64 persen dalam sepekan, tetapi tekanan dolar dan suku bunga masih membayangi.
Terbit · 2 min read

Harga perak dunia menguat 5,64 persen sepanjang perdagangan 2-6 November 2026, tetapi prospek pekan berikutnya masih menghadapi tekanan dolar dan ekspektasi suku bunga. Menurut laporan CNBC Indonesia, harga ditutup pada US$51,87 per troy ons pada Jumat (6/11/2026), berdasarkan data Refinitiv.
Penutupan itu naik US$2,77 dari US$49,10 pada pekan sebelumnya. Perdagangan berlangsung fluktuatif: harga naik pada Senin (2/11/2026), terkoreksi pada Selasa, melonjak pada Rabu, turun pada Kamis, lalu naik tipis pada Jumat.
Laporan CNBC Indonesia menyebut penguatan dolar Amerika Serikat, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah, dan meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve menjadi faktor yang membayangi logam mulia. Kenaikan suku bunga menambah biaya peluang memegang perak, sementara dolar yang lebih kuat membuatnya lebih mahal bagi pembeli dengan mata uang lain.
Menurut laporan Reuters yang dikutip CNBC Indonesia, pekerjaan nonpertanian Amerika Serikat bertambah 165.000 pada Oktober, melampaui perkiraan pasar sebanyak 65.000. Tingkat pengangguran turun menjadi 4,1 persen dari 4,2 persen pada September, sedangkan rata-rata upah per jam naik 0,4 persen secara bulanan.
Data tenaga kerja tersebut memperkuat perkiraan bahwa bank sentral AS dapat mempertahankan kebijakan ketat. Berdasarkan CME FedWatch yang dikutip Reuters, peluang kenaikan suku bunga pada Desember meningkat menjadi 81 persen dari 72,8 persen sebelum laporan ketenagakerjaan dirilis.
Pergerakan harga energi dan perkembangan Timur Tengah juga menjadi perhatian karena dapat memengaruhi inflasi. Perak memiliki permintaan industri, termasuk untuk elektronik dan panel surya, sehingga prospeknya turut dipengaruhi perkiraan pertumbuhan ekonomi dan kebutuhan manufaktur global.
Untuk perdagangan 9-13 November 2026, perhatian pasar diperkirakan tertuju pada inflasi AS dan sinyal kebijakan Federal Reserve. Laporan CNBC Indonesia menyebut dua pejabat bank sentral pada Kamis (5/11/2026) mendukung kenaikan suku bunga bertahap untuk mengendalikan inflasi yang masih di atas target.
Secara teknikal, penutupan US$51,87 berada di atas rata-rata lima hari sebesar US$51,25, tetapi masih di bawah rata-rata 10 hari US$52,00 dan rata-rata 20 hari US$54,56. Laporan CNBC Indonesia menilai harga berpeluang melanjutkan pemulihan jika bertahan di atas US$51,75; level US$52,21 dan US$52,39 menjadi hambatan awal, sedangkan US$50,63 dan US$49,77 menjadi area penopang yang diperhatikan.