
KNTI Dorong Pendampingan KUR bagi Nelayan Kecil
10 menit yang lalu
Bank-bank pelat merah menilai pelonggaran GWM memberi ruang likuiditas untuk mendukung pembiayaan.
Terbit · 1 min read

Para pimpinan bank milik negara menyambut keputusan Bank Indonesia (BI) melonggarkan kewajiban Giro Wajib Minimum (GWM). Menurut laporan CNBC Indonesia, kebijakan itu diputuskan dalam Rapat Dewan Gubernur bulanan Oktober 2026.
Untuk bank konvensional, GWM diturunkan dari 9 persen menjadi 7 persen secara bertahap mulai 1 November 2026. Adapun GWM bank syariah dan unit usaha syariah turun dari 7,5 persen menjadi 5,5 persen, dengan tahap pertama menjadi 6,5 persen pada 1 November 2026 dan 5,5 persen pada 1 Desember 2026.
Direktur Utama Bank Syariah Indonesia, Anggoro Eko Cahyo, mengapresiasi kebijakan tersebut karena dinilai memberi keleluasaan bagi bank untuk bertumbuh. Ia menyampaikan hal itu setelah acara CEO Lecture IV di Perbanas Institute, Jakarta Selatan, Rabu (28/10/2026).
Direktur Utama BTN, Nixon L.P. Napitupulu, mengatakan dana dari kelonggaran GWM dapat digunakan untuk menyalurkan kredit. Ia menyampaikan tanggapan tersebut setelah diskusi kelompok terarah tentang transformasi BTN di Bandung, Jumat (23/10/2026).
Nixon memperkirakan penurunan GWM sebesar 2 persen dapat menambah likuiditas BTN sekitar Rp6 triliun hingga Rp8 triliun. Menurut laporan yang sama, ia mengatakan masih meminta bagian perbendaharaan bank menghitung dampak pastinya.
BNI menilai ruang likuiditas tambahan dapat mendukung kapasitas perbankan menyalurkan pembiayaan, dengan tetap menerapkan prinsip kehati-hatian dan pengelolaan risiko. Sekretaris Perusahaan BNI, Okki Rushartomo, menyatakan bank akan mendukung pembiayaan sektor produktif dan agenda pembangunan nasional melalui kredit berkualitas serta sinergi dengan pemerintah, regulator, dan anggota Himbara.
Ketua Umum Perbanas Hery Gunardi juga menyambut penurunan GWM dalam keterangannya kepada CNBC Indonesia, Rabu (21/10/2026). Hery, yang juga menjabat Direktur Utama BRI, menilai kebijakan itu dapat mendorong likuiditas pasar dan memperbaiki fungsi intermediasi perbankan.
Hery memperkirakan penyaluran kredit bank akan meningkat dan rasio pinjaman terhadap simpanan atau LDR membaik. Menurut laporan yang sama, ia mengaitkan perubahan tersebut dengan dampak penurunan GWM terhadap likuiditas perbankan.