
PBB Soroti Dampak Penutupan Akses ke Taiz
11 menit yang lalu
Ekspor Indonesia mencapai 27,59 miliar dolar AS pada September, ditopang sektor pengolahan.
Terbit · 1 min read

Menteri Perdagangan Budi Santoso menyebut industri pengolahan menjadi penopang utama ekspor Indonesia pada September 2026. Menurut laporan ANTARA, peningkatan itu seiring naiknya permintaan sejumlah produk manufaktur di pasar global.
Dalam keterangannya di Jakarta, Budi mengatakan total ekspor Indonesia pada September 2026 mencapai 27,59 miliar dolar AS. Nilai tersebut tumbuh 3,68 persen dibandingkan Agustus 2026 dan meningkat 11,87 persen dibandingkan September 2025.
Ekspor industri pengolahan tumbuh 4,38 persen secara bulanan, lebih tinggi daripada pertumbuhan sektor pertambangan dan lainnya yang sebesar 2,37 persen. Budi mengatakan penguatan tersebut ditopang sektor pengolahan dan sejalan dengan program hilirisasi untuk meningkatkan ekspor produk bernilai tambah.
Menurut laporan yang sama, ekspor logam mulia, perhiasan, dan permata meningkat 116,33 persen. Ekspor mesin dan perlengkapan elektrik naik 19,91 persen, sedangkan karet dan barang dari karet tumbuh 14,87 persen.
Secara keseluruhan, ekspor nonmigas tumbuh 3,98 persen pada September, sementara ekspor migas turun 4,08 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Komoditas nonmigas dengan nilai ekspor terbesar adalah lemak dan minyak hewani atau nabati sebesar 4,43 miliar dolar AS, bahan bakar mineral 2,99 miliar dolar AS, serta besi dan baja 2,70 miliar dolar AS.
Pada Januari-September 2026, ekspor industri pengolahan tercatat sebesar 182,83 miliar dolar AS, atau 82,64 persen dari total ekspor nasional. Nilai tersebut tumbuh 8,93 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Ekspor Indonesia secara keseluruhan selama Januari-September 2026 mencapai 221,23 miliar dolar AS, tumbuh 5,58 persen. Ekspor nonmigas meningkat 6,30 persen menjadi 212,27 miliar dolar AS.
Untuk periode kumulatif itu, aluminium dan barang daripadanya mencatat pertumbuhan ekspor tertinggi sebesar 104,88 persen, diikuti tembaga dan barang daripadanya sebesar 57,49 persen serta nikel dan barang daripadanya sebesar 47,87 persen. Tujuan utama ekspor nonmigas adalah China senilai 54,17 miliar dolar AS, Amerika Serikat 25,39 miliar dolar AS, dan India 15 miliar dolar AS.