
Polisi Amankan Sidang Roy Suryo di PN Jaktim
12 menit yang lalu
Kekurangan pasokan menekan layanan kesehatan, sementara akses jalan diperlukan untuk mengirim bantuan ke Taiz.
Terbit · 2 min read

Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) menyebut kekurangan bahan bakar, oksigen, air, obat-obatan, produk darah, dan perlengkapan bedah semakin memburuk di Kegubernuran Taiz, Yaman. Menurut laporan ANTARA yang bersumber dari Xinhua, meningkatnya jumlah pasien trauma juga membebani layanan kesehatan.
Di Kota Taiz, pusat perkotaan terbesar ketiga di Yaman, rumah sakit mengandalkan persediaan darurat karena stok sejumlah kebutuhan medis terus menipis.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut 27 fasilitas kesehatan dan tujuh ambulans di Yaman rusak atau hancur sejak eskalasi dimulai pada Agustus, sementara enam tenaga kesehatan tewas. Jumlah pasien trauma yang meningkat turut membebani layanan kesehatan.
Dana Kependudukan PBB (UNFPA) melaporkan persalinan di rumah sakit bersalin utama Kota Taiz turun dari sekitar 10 menjadi lima per hari. Jumlah inkubator yang tersedia bagi bayi prematur juga berkurang dari 40 menjadi 10 akibat kekurangan bahan bakar.
OCHA menyebut kasus kolera turun selama tiga pekan berturut-turut. Namun, terdapat lebih dari 22.500 kasus dugaan campak dan hampir 130 kematian; anak di bawah lima tahun mencakup empat dari lima kematian tersebut.
Koordinator Bantuan Darurat PBB Tom Fletcher mengatakan dalam pernyataan pada Senin (2/11/2026) bahwa warga sipil membayar harga sangat mahal akibat konflik yang meningkat di Yaman. Ia juga menyebut hampir 300.000 orang mengungsi sejak awal Agustus, ketika pertempuran terbaru pecah.
OCHA menyebut mitra kemanusiaannya telah menjangkau hampir 260.000 orang, tetapi kebutuhan masih melampaui respons yang diberikan. Makanan, obat-obatan, dan persediaan lain siap dikirim, tetapi jalan perlu dibuka agar barang-barang itu dapat masuk, menurut laporan yang sama.
Fletcher menyatakan kemarahannya atas kematian rekan kerjanya di bidang hak asasi manusia PBB, Mohammad el-Shami, saat berada dalam tahanan Houthi. Fletcher menuntut pembebasan segera sedikitnya 70 staf PBB dan puluhan pekerja kemanusiaan lainnya yang masih ditahan; PBB juga menyerukan perlindungan warga sipil serta akses kemanusiaan yang aman, berkelanjutan, dan tanpa hambatan, terutama bagi komunitas yang semakin terisolasi akibat pertempuran.