
DJP Jakpus Sosialisasikan Kebijakan Sanksi Pajak
18 menit yang lalu
Penolakan dan kritik tidak selalu mencerminkan kekurangan diri; respons orang lain dapat dipahami tanpa mengambil alih emosinya.
Terbit · 1 min read

Psikolog klinis Michelle P. Maidenberg menyarankan sejumlah cara untuk menghadapi kritik dan penolakan tanpa menganggapnya sebagai serangan pribadi. Menurut laporan ANTARA yang merujuk Psychology Today, kebiasaan memaknai perilaku orang lain secara pribadi dapat berkaitan dengan rasa tidak aman, pengalaman hubungan masa lalu, dan kebutuhan akan penerimaan sosial.
Melansir laman Psychology Today pada Selasa (3/11/2026) waktu setempat, seseorang terkadang membiarkan kritik, ketidaksetujuan, atau sikap tidak responsif orang lain menentukan cara mereka memandang diri sendiri.
Maidenberg menyarankan agar seseorang menerima bahwa tidak semua orang akan menyukainya. Preferensi, nilai, dan kepribadian yang berbeda membuat penolakan tidak otomatis menunjukkan kekurangan pribadi.
Ia juga mengingatkan bahwa seseorang tidak dapat mengetahui pikiran orang lain. Sikap diam atau respons yang kurang ramah belum tentu berarti orang itu marah atau tidak menyukai seseorang.
Menurut Maidenberg, kritik dan sikap kasar terkadang berkaitan dengan persoalan emosional orang yang menyampaikannya, seperti rasa tidak aman, frustrasi, atau pengalaman yang belum terselesaikan. Suasana hati buruk orang lain juga bisa dipengaruhi kelelahan, stres, dan masalah pribadi.
Maidenberg menyarankan untuk memperhatikan emosi negatif orang lain tanpa ikut menyerapnya. Seseorang dapat berempati tanpa mengambil alih perasaan atau suasana hati orang tersebut.
Penolakan, lanjutnya, tidak menentukan nilai diri seseorang. Ketidakcocokan, perbedaan kebutuhan, atau waktu yang tidak tepat dapat menjadi alasan seseorang tidak diterima dalam hubungan.
Meski demikian, tanggapan orang lain dapat menjadi bahan evaluasi atas hubungan dan komunikasi. Maidenberg menyarankan seseorang mengakui kesalahan dan memperbaiki interaksi bila diperlukan, sekaligus membatasi kebiasaan memikirkan percakapan berulang kali atau berusaha mengubah pandangan orang lain.