
Jorge Martin Ingin Gelar MotoGP Tertunda
14 menit yang lalu
Rasio bunga utang di atas 15 persen dapat memicu risiko penurunan peringkat jika tak turun dalam dua tahun.
Terbit · 1 min read

Kepala Ekonom PT Bank Danamon Tbk. Irman Faiz menilai Indonesia berpotensi mengalami penurunan peringkat utang jika rasio beban bunga terhadap penerimaan negara tidak turun di bawah 15 persen dalam dua tahun ke depan. Menurut laporan CNBC Indonesia, ia juga menekankan pentingnya menjaga defisit fiskal maksimal 3 persen.
Irman menyampaikan pandangan itu dalam sesi tanya jawab pada Jumat (6/11/2026). Ia menjawab pertanyaan mengenai dampak kenaikan bunga utang dan instrumen swap gagal bayar (CDS) terhadap posisi Indonesia di mata investor.
Menurut laporan CNBC Indonesia, Irman menyebut rasio beban bunga terhadap penerimaan negara yang telah melampaui 15 persen menjadi salah satu alasan S&P dalam penilaian terakhirnya. Jika rasio tersebut tidak turun di bawah batas itu dalam dua tahun, ia menilai ada risiko penurunan peringkat.
Irman mengatakan pengelolaan utang secara hati-hati perlu diterapkan dan komitmen menjaga defisit APBN maksimal 3 persen terhadap produk domestik bruto perlu dipertahankan. Menurutnya, langkah itu dapat membantu meredam perhatian lembaga pemeringkat terhadap risiko Indonesia.
Ia juga menilai pemerintah perlu menurunkan biaya pinjaman secara bertahap. Menjaga defisit fiskal maksimal 3 persen merupakan salah satu cara yang ia sebut untuk mendukung penurunan biaya tersebut.
Terkait kenaikan CDS, Irman menyebut faktor geopolitik sebagai pendorong terbesar, sementara ketidakpastian terkait MSCI turut berpengaruh tetapi bukan satu-satunya penyebab. Jika ketidakpastian MSCI bertahan hingga kuartal pertama atau kedua 2027 dan kondisi geopolitik membaik, ia berharap premi risiko dapat turun.
Irman memperkirakan imbal hasil surat berharga negara tahun depan dapat turun menjadi 7,2 persen jika imbal hasil obligasi Amerika Serikat turun ke 4,2 persen. Ia mengatakan selisih imbal hasil yang menarik, yakni 240–270 basis poin, perlu dijaga untuk menarik investor ke pasar obligasi.
Menurut laporan yang sama, Irman menyebut imbal hasil obligasi pemerintah AS turun dari 5 persen menjadi 4,8 persen dalam beberapa hari terakhir, sementara rupiah menguat dari Rp18.135 menjadi sekitar Rp18.035 per dolar AS.