
Lima Kecenderungan yang Dikaitkan dengan Penggemar Horor
13 menit yang lalu
Surplus kumulatif Januari-September 2026 disebut menjadi salah satu motor penggerak perekonomian nasional.
Terbit · 1 min read

Neraca perdagangan Jawa Barat mencatat surplus kumulatif 22,088 miliar dolar AS pada Januari-September 2026, yang disebut menjadi salah satu motor penggerak perekonomian nasional. Menurut laporan ANTARA, Kepala BPS Provinsi Jawa Barat Margaretha Ari Anggorowati menyampaikan data tersebut di Bandung, Senin (2/11/2026).
BPS Jawa Barat mencatat nilai ekspor kumulatif provinsi itu mencapai 31,218 miliar dolar AS selama Januari-September 2026. Nilai tersebut tumbuh 8,06 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Ari mengatakan ekspor Jawa Barat didominasi industri pengolahan, yang menyumbang 98,58 persen. Komoditas ekspor nonmigas utamanya mencakup kendaraan dan bagiannya, mesin serta perlengkapan elektrik, mesin dan peralatan mekanis, serta perhiasan dan permata.
Amerika Serikat menjadi tujuan ekspor nonmigas terbesar dengan nilai 5,28 miliar dolar AS. Filipina menyusul dengan 2,64 miliar dolar AS dan Jepang dengan 2,20 miliar dolar AS.
Di sisi impor, nilai kumulatif Jawa Barat pada Januari-September 2026 tercatat 9,13 miliar dolar AS, turun 1,25 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Menurut laporan yang sama, bahan baku dan bahan penolong mencakup 80,39 persen dari total impor, barang modal 10,28 persen, dan barang konsumsi 9,33 persen.
Tiongkok menjadi negara asal impor nonmigas terbesar dengan nilai 3,66 miliar dolar AS, disusul Jepang sebesar 1,03 miliar dolar AS dan Korea Selatan sebesar 998,58 juta dolar AS.
Ari menyebut selisih nilai ekspor dan impor menghasilkan surplus perdagangan kumulatif 22,088 miliar dolar AS. Ia mengatakan Jawa Barat mencatat surplus terbesar dengan Amerika Serikat, Vietnam, dan Filipina.