
MU dan AS Roma Bertemu di Liga Champions
33 menit yang lalu
Ulasan CNNIndonesia.com membahas lima kecenderungan yang dikaitkan dengan penggemar film horor, tanpa menyebutnya berlaku bagi semua orang.
Terbit · 1 min read

CNNIndonesia.com menerbitkan ulasan pada 2 November 2026 yang membahas lima kecenderungan yang dikaitkan dengan orang yang menyukai film horor. Ulasan itu merujuk sejumlah sumber dan penelitian, tetapi tidak menyatakan bahwa semua penggemar horor memiliki karakteristik yang sama.
Mengutip Verywell Mind, laporan tersebut menyebut pencarian sensasi sebagai salah satu kecenderungan yang dikaitkan dengan hobi itu. Orang yang mencari sensasi cenderung tertarik pada pengalaman baru atau intens dan dapat merasakan emosi positif dari pengalaman yang merangsang.
Laporan yang sama juga membahas anggapan bahwa sebagian penonton horor memiliki empati lebih rendah karena kurang terpengaruh oleh penderitaan karakter di layar. Namun, empati terhadap tokoh fiksi tidak selalu mencerminkan empati terhadap orang sungguhan, dan tidak semua penggemar horor memiliki empati rendah.
Mengutip Your Tango, laporan CNNIndonesia.com menyebut penggemar film horor cenderung memiliki tingkat stres rendah. Menonton horor dapat menjadi semacam paparan terhadap situasi yang meresahkan, yang memberi kesempatan untuk mengembangkan cara mengelola emosi dan perilaku saat menghadapi ketakutan; setelah adegan menakutkan berakhir, otak biasanya melepaskan zat kimia seperti dopamin, serotonin, oksitosin, dan endorfin yang memberikan rasa senang dan lega.
Kecenderungan lain yang dibahas adalah kemampuan mengelola rasa takut dan cemas. Laporan itu merujuk penelitian Mathias Clasen dari Universitas Aarhus, Denmark, yang diterbitkan dalam Review of General Psychology pada 2012; penelitian tersebut mengaitkan film horor dengan latihan mental untuk menghadapi ketakutan.
Menurut ulasan CNNIndonesia.com, strategi yang dipelajari saat menonton cerita horor mungkin dapat diterapkan dalam situasi nyata. Laporan itu juga menyebut penonton dapat memahami bahwa film bersifat fiksi.
Kecenderungan kelima yang dibahas adalah kemungkinan lebih mudah memproses trauma dan duka. Ulasan tersebut menyebut keterhubungan dengan tokoh protagonis yang mengalami trauma dapat memengaruhi pemahaman seseorang tentang cara menghadapi trauma pribadi, serta memberi rasa lega atau pelarian dari perjuangan sehari-hari; hal ini bukan kepastian bagi setiap penonton.