
BULOG Bentuk Satgas Awasi Penjualan Beras SPHP
12 menit yang lalu
Proyek percontohan di Pamekasan direncanakan melibatkan satu petani pada 2027.
Terbit · 1 min read

Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur menjajaki penerapan teknologi budidaya tembakau dari Zimbabwe melalui proyek percontohan di Pamekasan, Madura, pada 2027. Menurut laporan ANTARA, rencana itu ditujukan untuk meningkatkan produktivitas petani dan mengurangi ketergantungan Indonesia pada impor tembakau.
Ketua Umum Kadin Jawa Timur Adik Dwi Putranto menyampaikan dukungan terhadap penjajakan tersebut di Surabaya, Sabtu (31/10/2026). Proyek percontohan direncanakan melibatkan satu petani di Pamekasan terlebih dahulu.
Adik mengatakan kerja sama itu memberi kesempatan kepada petani lokal untuk mempelajari teknik budidaya yang diterapkan di Zimbabwe, mulai dari pengolahan lahan dan pemilihan bibit hingga penanaman serta penanganan pascapanen.
“Secara prinsip, Kadin Jatim mendukung kolaborasi ini. Harapannya, produktivitas petani tembakau Indonesia bisa meningkat, baik dari sisi budidaya maupun teknologi pascapanen, sehingga mampu bersaing dengan produk impor,” kata Adik, seperti dikutip ANTARA.
Menurut laporan yang sama, Adik menilai produktivitas menjadi tantangan karena hasil tembakau Indonesia masih tertinggal dibandingkan sejumlah negara pemasok. Produktivitas di Zimbabwe disebut dapat mencapai sekitar tiga ton per hektare, sedangkan rata-rata di Indonesia berkisar satu ton per hektare.
Kesenjangan itu, menurut Adik, membuka peluang untuk meningkatkan hasil panen melalui perbaikan teknik budidaya dan penggunaan teknologi yang sesuai dengan karakteristik lahan serta kebutuhan industri. Ia juga menilai kemampuan petani perlu ditingkatkan bersamaan dengan perlindungan terhadap keberlangsungan usaha tani.
Tembakau Virginia menjadi salah satu komoditas yang diperhatikan karena pasokan dalam negeri belum memenuhi kebutuhan industri. ANTARA mengutip data Badan Riset dan Inovasi Nasional yang mencatat impor tembakau Indonesia sekitar 121 ribu ton per tahun, senilai Rp18 triliun, dari sejumlah negara, termasuk China, India, Brasil, Zimbabwe, Filipina, dan Amerika Serikat.
Setelah proyek percontohan, hasil penerapannya akan dievaluasi untuk melihat kemungkinan pengembangan ke petani lain. Adik berharap kolaborasi lintas negara itu dapat meningkatkan kemampuan produksi dan kualitas tembakau lokal serta memperbesar peluang pemenuhan bahan baku industri dari dalam negeri.