
Saham TMPO Naik 75,61 Persen Sebulan
12 menit yang lalu
Yen mencatat penguatan terbesar, sementara rupiah naik 0,11 persen pada perdagangan pagi.
Terbit · 2 min read

Mayoritas mata uang Asia menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (4/11/2026), saat dolar melemah di tengah penghitungan suara pemilu sela AS. Menurut laporan CNBC Indonesia, data Refinitiv pada pukul 09.22 WIB menunjukkan delapan dari 10 mata uang yang dipantau menguat.
Yen Jepang mencatat kenaikan terbesar, yakni 0,59 persen ke JPY157,71 per dolar AS. Won Korea Selatan menguat 0,52 persen, baht Thailand 0,21 persen, ringgit Malaysia 0,15 persen, dan dolar Singapura 0,12 persen.
Rupiah naik 0,11 persen ke Rp18.115 per dolar AS. Dong Vietnam menguat 0,08 persen dan peso Filipina 0,03 persen, sedangkan yuan China melemah 0,16 persen dan dolar Taiwan turun 0,08 persen.
Laporan yang sama menyebut indeks dolar AS (DXY) turun 0,42 persen ke 101,446 pada perdagangan pagi. Perhatian investor tertuju pada kemungkinan perubahan komposisi kekuatan politik di Kongres AS.
Hasil awal penghitungan suara menunjukkan Senator Demokrat Jon Ossoff mempertahankan kursinya di Georgia. Penghitungan secara keseluruhan masih berlangsung untuk menentukan apakah Partai Demokrat dapat mengambil alih kendali Kongres dari Partai Republik yang dipimpin Presiden Donald Trump.
Carol Kong, ahli strategi mata uang Commonwealth Bank of Australia, menilai dolar dapat menghadapi tekanan lebih lanjut jika Demokrat menguasai kedua kamar Kongres. Menurut laporan CNBC Indonesia yang mengutip Reuters, Kong mengatakan hasil seperti itu dapat membatasi belanja pemerintah selama masa jabatan Trump.
Dolar juga tertekan oleh penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun, yang turun sekitar 4 basis poin menjadi 4,919 persen. Penurunan imbal hasil tersebut mengurangi daya tarik aset berdenominasi dolar, sementara arah mata uang itu selanjutnya bergantung antara lain pada hasil akhir pemilu.
Kong juga mengingatkan bahwa peningkatan ketegangan AS-Iran dapat mendorong harga minyak dan mendukung dolar. Sementara itu, laporan CNBC Indonesia menyebut yuan melemah setelah bank sentral China menaikkan rasio kewajiban cadangan devisa lembaga keuangan dari 4 persen menjadi 6 persen; laporan itu menyatakan langkah tersebut ditujukan untuk memperlambat penguatan yuan sebelumnya.