
Malaysia Tawarkan Pesawat dan Helikopter untuk Karhutla
17 menit yang lalu
Tekanan investor asing dan pelemahan rupiah menjadi pertimbangan dalam memilih saham perbankan.
Terbit · 1 min read

PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai investor perlu selektif memilih saham perbankan dengan fundamental pendanaan kuat di tengah tekanan jual investor asing dan pelemahan rupiah. Menurut laporan ANTARA, Kepala Riset sekaligus Kepala Ekonom Mirae Asset, Rully Arya Wisnubroto, menyampaikan penilaian itu dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa (27/10/2026).
Rully mengatakan pembelian oleh investor domestik sejauh ini membantu menyerap arus dana asing keluar. Namun, peningkatan tekanan jual menimbulkan pertanyaan mengenai keberlanjutan dukungan tersebut.
“Dengan ketidakpastian MSCI yang belum mereda dan tekanan eksternal yang meningkat, kami tetap berhati-hati. Arus dana asing dan stabilitas rupiah akan semakin menentukan kemampuan IHSG mempertahankan pemulihannya,” ujar Rully.
Menurut analisis riset Mirae Asset yang dikutip dalam laporan yang sama, pertumbuhan kredit perbankan melambat menjadi 12,7 persen secara tahunan pada September 2026, dari 13,3 persen pada Agustus 2026. Perlambatan terutama berasal dari kredit investasi yang terkontraksi 0,2 persen secara bulanan, antara lain akibat tekanan di segmen konstruksi.
Pertumbuhan dana pihak ketiga membaik menjadi 8,2 persen secara tahunan, dengan total dana Rp9.896 triliun. Rasio dana murah yang berasal dari rekening giro dan tabungan meningkat menjadi 64,9 persen.
Meski demikian, suku bunga deposito meningkat di berbagai tenor sehingga biaya dana naik dan berpotensi menekan margin bunga bersih perbankan. Suku bunga deposito tenor satu bulan mencapai 5,3 persen, sedangkan tenor tiga bulan 5,9 persen.
Analis Riset Mirae Asset, Muhammad Nurkholis Syafruddin, mengatakan rasio pinjaman terhadap simpanan turun menjadi 91,7 persen pada September dari 92,7 persen pada bulan sebelumnya. Menurutnya, penurunan itu belum mencerminkan perbaikan likuiditas yang bersifat struktural.
“Kami melihat penurunan LDR ini sebagai kelonggaran sementara, bukan perbaikan likuiditas yang struktural. Kenaikan biaya dana juga mengindikasikan potensi tekanan margin ke depan,” kata Nurkholis. Mirae Asset menyarankan investor mencermati arus dana asing, stabilitas rupiah, serta kemampuan bank mengelola likuiditas dan biaya pendanaan.