
Apple Dikabarkan Siapkan Tiga iPad untuk 2027
13 menit yang lalu
NTP nasional mencapai 132,60, dengan kenaikan tertinggi pada subsektor hortikultura.
Terbit · 1 min read

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai tukar petani (NTP) nasional mencapai 132,60 pada Oktober 2026, naik 1,13 persen dibandingkan September. Menurut laporan ANTARA, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menyampaikan data tersebut dalam konferensi pers di Jakarta.
Kenaikan terjadi karena indeks harga yang diterima petani meningkat 1,55 persen, lebih besar daripada kenaikan indeks harga yang dibayar petani sebesar 0,41 persen.
Ateng mengatakan komoditas yang dominan mendorong kenaikan indeks harga yang diterima petani secara nasional adalah karet, jagung, cabai merah, dan gabah.
Berdasarkan subsektor, NTP meningkat pada tanaman pangan, hortikultura, dan tanaman perkebunan rakyat. Sebaliknya, NTP subsektor peternakan dan perikanan menurun.
Hortikultura mencatat kenaikan NTP tertinggi, sebesar 6,88 persen. Indeks harga yang diterima petani hortikultura naik 7,12 persen, sedangkan indeks harga yang dibayar naik 0,23 persen.
Menurut laporan yang sama, cabai merah, tomat, dan cabai rawit menjadi komoditas yang dominan mendorong kenaikan harga yang diterima petani hortikultura.
NTP subsektor peternakan turun 0,88 persen, sementara subsektor perikanan turun 0,51 persen. Pada perikanan, penurunan terutama terjadi pada kelompok nelayan, dengan nilai tukar nelayan (NTN) turun 0,99 persen.
Penurunan NTN terjadi saat indeks harga yang diterima nelayan turun 0,51 persen dan indeks harga yang dibayar nelayan naik 0,49 persen. BPS menyebut tongkol, layang, dan cakalang sebagai komoditas yang dominan mengalami penurunan indeks harga yang diterima nelayan.
Berbeda dari nelayan, nilai tukar pembudi daya ikan meningkat 0,26 persen pada Oktober 2026, menurut laporan ANTARA.