
Rizky Ridho Ungkap Pesan Shin Tae-yong
10 menit yang lalu
Program B50 ditujukan untuk menekan impor solar, tetapi membutuhkan pasokan sawit dan pengawasan dampak pangan.
Terbit · 2 min read

Menurut laporan CNBC Indonesia, pemerintah mulai menjalankan program mandatori Biodiesel B50 secara nasional pada Juli 2026. Program yang mencampur bahan bakar nabati berbasis minyak sawit dan solar itu ditujukan untuk mengurangi impor solar serta memperkuat ketahanan energi.
Presiden Prabowo Subianto menghadiri peluncuran program di Rest Area KM 57, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Kamis (9/7/2026). Dalam kesempatan itu, ia menyebut pemerintah mempercepat upaya menuju kemandirian energi di tengah ketidakpastian global.
Prabowo mengatakan kepada timnya bahwa campuran B40 belum cukup dan ia sempat mendorong penggunaan B100. Namun, menurut penjelasannya, para menteri menyampaikan bahwa B50 akan membuat Indonesia tidak lagi mengimpor solar dari luar negeri.
Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral pada 2025 mencatat kebutuhan solar Indonesia sebesar 39,15 juta kiloliter. Produksi solar kilang dalam negeri mencapai 18,56 juta kiloliter, produksi biodiesel 13,16 juta kiloliter, sementara impor solar tercatat 4,9 juta kiloliter.
Menurut laporan CNBC Indonesia, Kementerian ESDM memperkirakan penghematan devisa dari B50 mencapai Rp170 triliun, dibandingkan Rp133,3 triliun pada B40. Nilai tambah industri minyak sawit diproyeksikan meningkat dari Rp20,92 triliun menjadi Rp23,49 triliun, sedangkan penyerapan tenaga kerja diperkirakan sekitar 2,1 juta orang.
Kebutuhan biodiesel untuk mendukung B50 diproyeksikan mencapai 16,7 juta hingga 18 juta kiloliter, dengan kebutuhan minyak sawit mentah sekitar 15,2 juta hingga 16,3 juta ton. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan kebijakan tersebut merupakan bagian dari diversifikasi energi dan pemanfaatan sumber daya domestik.
Namun, Dewan Pengawas dan Pengajar Ikatan Komite Audit Indonesia Wisnu Aji Nugroho mengingatkan bahwa minyak sawit juga digunakan untuk pangan, industri oleokimia, dan ekspor. Ia menilai peningkatan kebutuhan bahan baku B50 perlu diimbangi pengelolaan pasokan agar tidak menekan ketersediaan dan harga minyak goreng.
Wisnu menyarankan penerapan B50 dilakukan secara fleksibel apabila produksi minyak sawit turun tajam atau harga minyak goreng melewati ambang kritis. CNBC Indonesia juga mengutip evaluasi INDEF yang menyebut manfaat ekonomi biodiesel perlu dihitung dengan memperhitungkan biaya insentif, bahan baku, serta dampak terhadap harga pangan dan produksi.