
Kemenkes Perkuat Pencegahan TB di Jakarta
11 menit yang lalu
Garuda mencatat kenaikan pendapatan dan trafik, tetapi masih menghadapi tekanan biaya bahan bakar.
Terbit · 2 min read

PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk mencatat pendapatan konsolidasi US$2,71 miliar selama sembilan bulan pertama 2026, tumbuh 13,2% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Menurut laporan CNBC Indonesia, kenaikan tersebut setara US$316,4 juta.
Kinerja itu mencakup periode hingga September 2026 dan berasal dari bisnis Garuda Indonesia Group. Penerbangan berjadwal menyumbang kenaikan pendapatan terbesar, yakni 12,6% atau US$233,2 juta, sedangkan penerbangan nonberjadwal tumbuh 2,1% atau US$6,3 juta.
Direktur Utama Garuda Indonesia Thomas Oentoro menyebut perkembangan tersebut sebagai indikasi positif bagi transformasi bisnis, termasuk upaya meningkatkan produktivitas dan mengoptimalkan potensi usaha grup. Ia juga menyampaikan bahwa penguatan bisnis penerbangan perlu diimbangi kontribusi lebih besar dari lini usaha non-penerbangan.
Pendapatan lini non-penerbangan naik 31,3% menjadi US$322,8 juta, atau bertambah US$77 juta secara tahunan. Menurut laporan yang sama, kenaikan itu antara lain ditopang pertumbuhan pendapatan pemeliharaan pesawat dari pelanggan eksternal GMF AeroAsia sebesar 42,4% dan layanan agen perjalanan sebesar 76,1%.
Kenaikan pendapatan terjadi di tengah tekanan biaya, terutama akibat kenaikan harga bahan bakar penerbangan yang dikaitkan dengan volatilitas pasar energi global dan dinamika geopolitik di Timur Tengah. Beban bahan bakar meningkat 42,9% atau US$309,8 juta, sementara total beban operasional naik 15,7%; beban operasional di luar bahan bakar bertambah 3,1%.
Garuda Indonesia Group mencatat laba usaha US$97,2 juta dan rugi periode berjalan konsolidasi US$179,3 juta, menyusut 3,0% dibandingkan setahun sebelumnya. Thomas menyatakan dukungan Danantara sebagai pemegang saham diarahkan untuk membantu produktivitas, pemanfaatan aset, dan sinergi antarbadan usaha.
Hingga September 2026, grup memiliki 106 pesawat siap operasi, terdiri atas 64 pesawat Garuda Indonesia dan 42 pesawat Citilink, bertambah 24 pesawat dari periode yang sama tahun sebelumnya. Trafik penumpang mencapai 16,7 juta, frekuensi penerbangan naik 7,9% menjadi 117.868, dan tingkat ketepatan waktu tercatat 92,01%, naik 5,86 poin persentase.
Thomas mengatakan pemulihan armada perlu disertai peningkatan produktivitas pesawat dan optimalisasi jaringan penerbangan. Perusahaan, menurut laporan CNBC Indonesia, menempatkan peningkatan utilisasi armada, pengelolaan biaya dan aset, serta penguatan bisnis grup sebagai fokus transformasi berikutnya untuk mendukung pemulihan profitabilitas.