
IPB University dan DAAD Perkuat Kerja Sama Riset
11 menit yang lalu
Perajin tahu dan tempe di Surakarta menyebut pasokan kedelai impor aman, sementara harga naik dan keuntungan menipis.
Terbit · 2 min read

Menurut laporan ANTARA, perajin tahu dan tempe di Kota Surakarta, Jawa Tengah, mengakui kebutuhan bahan baku kedelai impor hingga kini terpenuhi tanpa kelangkaan, dengan harga beli Rp11.450 per kilogram.
Perajin tahu asal Kelurahan Mojosongo, Kecamatan Jebres, Eko Triadi, mengatakan di Surakarta, Sabtu (24/10/2026), bahwa harga kedelai masih wajar dan tidak ada kelangkaan sama sekali. "Pasokan masih aman, kami bisa dengan mudah mendapatkan di warung langganan," kata Eko.
Menurut Eko, harga kedelai memang naik, tetapi masih bisa dibeli di bawah Rp12 ribu per kilogram. Ia menyebut selisih harga eceran dan grosir tidak terlalu jauh, dan ia memilih kemasan 6 kilogram yang harganya terpaut hingga Rp500 karena pekerjaan menjadi lebih cepat. Eko berharap harga kedelai turun di bawah Rp11 ribu per kilogram agar keuntungan bertambah dan bisa dipakai untuk menggaji karyawan.
Perajin tempe dari kelurahan dan kecamatan yang sama, Yogha Estu Prakoso, mengatakan pasokan kedelai impor tidak mengalami kendala meski harganya terus naik. Menurut dia, harga kedelai naik dari Rp10 ribu per kilogram pada awal tahun menjadi Rp11.450 per kilogram. "Untuk pasokan aman, hanya saja keuntungan semakin menipis, karena kami tidak mungkin menaikkan harga jual tempe," katanya.
Yogha mengolah 2 kuintal kedelai menjadi tempe setiap hari, dengan harga jual mulai Rp900 hingga Rp2.500 tergantung ukuran. Ia menyatakan tidak menaikkan harga jual meski harga kedelai naik, tetapi mengurangi takaran agar tetap memperoleh untung.
Menurut laporan yang sama, pejabat bidang komunikasi korporat dan keberlanjutan FKS Group, Beatrice Susanto, mengatakan kunjungan FKS selaku importir kedelai ke sejumlah perajin tahu dan tempe bertujuan memastikan pasokan di tingkat perajin aman dan harga sesuai arahan pemerintah. "Kami pastikan pasokan kedelai aman dan harganya pun sesuai yang ditetapkan pemerintah," katanya.
Harga Acuan Penjualan (HAP) kedelai impor di tingkat perajin tahu dan tempe ditetapkan maksimal Rp12.000 per kilogram, sedangkan HAP kedelai lokal maksimal Rp11.400 per kilogram. Ketentuan itu diatur dalam Keputusan Kepala Badan Pangan Nasional Nomor 330 Tahun 2026.
Sebelumnya, Kepala Badan Pangan Nasional sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman meminta importir dan distributor kedelai saling menjaga harga, terutama bagi perajin tahu dan tempe berskala kecil dan mikro. "Kami akan telusuri kalau terdampak pada perajin, pada produsen tahu tempe. Kami akan cek sumbernya dari mana. Jangan menaikkan harga semena-mena," kata Amran. Ia juga menyatakan Indonesia harus segera keluar dari ketergantungan impor dan membangun kemandirian produksi dalam negeri.
Berdasarkan data Kementerian Pertanian, kebutuhan kedelai nasional tahun 2026 diproyeksikan mencapai 2,7 juta ton, dan sekitar 95 persen atau 2,6 juta ton masih dipenuhi dari impor. Rata-rata produksi nasional dalam lima tahun terakhir sekitar 227 ribu ton per tahun dengan luas tanam 136 ribu hektare dan produktivitas rata-rata 1,6 ton per hektare. Hingga April 2026, produksi nasional tercatat 4.982 ton dari luas tanam 7.018 hektare.