
Prabowo Salurkan Rp40 Miliar untuk Karhutla Jambi
11 menit yang lalu
Konversi simpanan ke valas dan tekanan pasar disebut membebani rupiah, sementara faktor global berpotensi menahan pelemahannya.
Terbit · 2 min read

Nilai tukar rupiah ditutup melemah 21 poin atau 0,12 persen menjadi Rp18.156 per dolar AS. Menurut laporan ANTARA, pelemahan pada perdagangan Selasa itu dipengaruhi konversi simpanan ke valuta asing dan tekanan di pasar saham serta obligasi.
Penutupan tersebut berlangsung pada Selasa (27/10/2026). Pada penutupan sebelumnya, rupiah berada di level Rp18.135 per dolar AS; sementara kurs JISDOR Bank Indonesia melemah ke Rp18.139 dari Rp18.116 per dolar AS.
Analis Bank Woori Saudara Rully Nova mengatakan peningkatan konversi simpanan masyarakat dari rupiah ke valuta asing di sektor perbankan turut menekan rupiah. Ia menyampaikan keterangan itu kepada ANTARA di Jakarta, Selasa, dan menyebut kenaikan simpanan valas mencapai 20 persen.
Menurut Rully, kenaikan itu mengindikasikan preferensi masyarakat untuk memegang dolar AS sebagai antisipasi kemungkinan pelemahan rupiah berlanjut. Kondisi tersebut, katanya, berisiko memicu kelangkaan likuiditas dolar AS di pasar domestik.
Tekanan lain datang dari Indeks Harga Saham Gabungan yang terkoreksi hingga menembus kisaran 5.300. Di pasar obligasi, laporan yang sama menyebut terjadi inversi kurva imbal hasil: imbal hasil obligasi pemerintah bertenor acuan 10 tahun lebih rendah daripada tenor 8 hingga 9 tahun.
Sejumlah faktor global dinilai berpotensi menahan pelemahan rupiah, termasuk penurunan harga minyak dan imbal hasil obligasi Pemerintah AS yang turun 1,8 basis poin menjadi 4,97 persen. Ekspektasi kenaikan suku bunga acuan Federal Reserve juga mereda.
Mengutip Anadolu, ANTARA melaporkan minyak WTI untuk pengiriman Desember turun 1,51 dolar AS atau 1,46 persen menjadi 101,76 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange. Minyak Brent untuk pengiriman Desember turun 91 sen atau 0,78 persen menjadi 115,81 dolar AS per barel di London ICE Futures Exchange.
Federal Reserve kemungkinan mempertahankan suku bunga pada pertemuan kebijakan pekan itu, meski inflasi yang meningkat membuat peluang kenaikan tetap terbuka. Menurut laporan ANTARA, CME Group mencatat probabilitas 90 persen suku bunga dipertahankan, sedangkan 10 persen pelaku pasar memperkirakan kenaikan dalam waktu dekat.