
Survei KedaiKOPI Catat Komitmen Pemuda Memilih
10 menit yang lalu
Suahasil menyebut APBN perlu merespons perubahan, sementara pemerintah memetakan kendala fiskal daerah.
Terbit · 1 min read

Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyatakan APBN perlu fleksibel merespons perubahan situasi, termasuk dalam pembiayaan dan belanja negara. Menurut laporan ANTARA yang terbit Jumat (30/10/2026), ia menyampaikan hal itu di Jakarta.
Suahasil mengatakan kondisi global, perubahan harga komoditas, serta kenaikan suku bunga di berbagai negara menjadi bagian dari situasi yang perlu direspons.
Ia menjelaskan pembiayaan negara digunakan untuk belanja negara yang dirancang agar dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan situasi. Suahasil menyebut APBN juga berperan untuk menyejahterakan, menumbuhkan, dan melindungi masyarakat.
Pemerintah pusat melalui Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Keuangan membentuk tim teknis gabungan untuk memetakan kesulitan fiskal pemerintah daerah dan mengurai solusi. Langkah itu disepakati dalam pertemuan Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian dengan Suahasil, menurut laporan yang sama.
Pemetaan awal diarahkan pada daerah dengan ruang fiskal APBD terbatas karena belanja pegawai mendominasi anggaran, yakni sekitar 40 hingga 50 persen dari total anggaran daerah. Tito menilai beban tersebut menghambat pelaksanaan program pembangunan prioritas pemerintah pusat di daerah.
Kedua kementerian menurunkan tim lintas direktorat jenderal untuk mengkaji opsi penyehatan keuangan daerah. Pemerintah juga menyelaraskan APBN dan APBD untuk mendorong intervensi bertahap dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Suahasil menyebut insentif fiskal dirancang untuk mendorong iklim kompetisi yang sehat antarkepala daerah dalam mencapai indikator pembangunan, termasuk pengendalian inflasi, pengentasan kemiskinan, perbaikan lingkungan, peningkatan realisasi belanja, dan penurunan pengangguran. Pemerintah menyiapkan dana insentif daerah sementara sebesar Rp1 triliun yang telah ditetapkan dalam APBN.