
IMOS 2026 Digelar di ICE BSD
11 menit yang lalu
Sebanyak 75,8 persen pemuda berkomitmen memilih pada Pemilu 2029, tetapi 62,7 persen merasa aspirasinya belum terwakili.
Terbit · 2 min read

Menurut laporan ANTARA, survei Lembaga Survei KedaiKOPI mencatat 75,8 persen pemuda menyatakan berkomitmen menggunakan hak pilih pada Pemilu 2029. Minat generasi muda terhadap politik tercatat sebesar 64,6 persen.
Survei dilakukan secara daring pada 23–29 September 2026 terhadap 1.213 warga negara Indonesia berusia 17–45 tahun dari 36 provinsi. Responden terdiri atas kelompok generasi Z dan milenial; kedua kelompok itu diprediksi mendominasi lebih dari 60 persen pemilih pada Pemilu 2029.
Kepala Riset KedaiKOPI Ashma Nur Afifah mengatakan hasil survei menunjukkan ketertarikan pemuda pada politik tetap ada meski sebagian merasa aspirasinya belum terwakili. Sebanyak 62,7 persen responden merasa aspirasi mereka tidak terwakili dalam kebijakan maupun dinamika politik saat ini.
“Jadi sebenarnya ada minat yang cukup tinggi bagi pemuda untuk berpartisipasi dalam politik, tetapi memang persepsi tidak terwakili itu cukup besar juga,” kata Ashma dalam diskusi “Menakar Arah Pemuda: Tantangan Ekonomi, Pekerjaan, dan Preferensi Politik Menuju 2029.”
Dalam memilih figur pemimpin, 48,4 persen responden menginginkan tokoh berlatar profesional dan teknokrat. Angka itu lebih tinggi daripada pilihan terhadap mantan politisi sebesar 27,7 persen serta aparat pemerintahan atau TNI/Polri sebesar 10,1 persen.
Menurut laporan yang sama, pembukaan lapangan kerja menjadi perhatian 21,6 persen pemuda. Isu lain yang disebut mencakup kesejahteraan di tengah kenaikan harga kebutuhan, stabilitas ekonomi, pemberantasan korupsi, transparansi, kebebasan sipil, dan demokrasi.
Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional Lili Romli menilai ketertarikan pemuda terhadap politik perlu dilihat bersama persepsi mereka mengenai efektivitas partisipasi dalam mendorong perubahan.
“Anak-anak muda tertarik terhadap politik, tetapi tidak yakin suaranya didengar dapat menghasilkan perubahan. Akhirnya, untuk mencari perubahan itu, mereka melakukan demonstrasi,” kata Lili.
Sebanyak 65,9 persen responden menilai demonstrasi paling efektif untuk menyampaikan aspirasi, sementara 51,6 persen menilai kanal pengaduan resmi pemerintah efektif.
Survei juga mencatat 54,4 persen responden optimistis Indonesia Emas 2045 dapat tercapai dan 45,6 persen pesimistis.
Sebanyak 81,5 persen bangga menjadi warga Indonesia, dengan skor rata-rata kebanggaan 7,51, sedangkan 71,3 persen menilai nilai Sumpah Pemuda masih relevan.
Perwakilan pemuda Firdarainy Nurul Izzah mengatakan, “Saya melihat bahwa kebanggaan terhadap negara ini tidak sejalan dengan optimisme kita kepada masa depan.”
Ia menyebut kebanggaan sebagai warga Indonesia tetap muncul saat berinteraksi dengan teman-teman di luar negeri, tetapi sebagian pemuda masih mempertanyakan kesempatan untuk mandiri secara ekonomi dan menyampaikan kritik yang dapat didengar pembuat kebijakan.
Data survei dibobotkan dengan metode penyesuaian proporsi secara berulang berdasarkan jenis kelamin, usia, pendidikan, agama, wilayah, dan provinsi.