
Psikolog Jelaskan Kalimat yang Sebaiknya Dihindari
14 menit yang lalu
Warna yang memudar tidak memastikan daging aman; penilaian perlu mempertimbangkan pewarna dan hasil uji laboratorium.
Terbit · 2 min read

Dosen Sekolah Vokasi IPB University, Gilang Ayuningtyas, menjelaskan bahwa warna pada bulu anak ayam yang memudar tidak otomatis memastikan dagingnya aman dikonsumsi. Menurut laporan CNBC Indonesia yang mengutip laman resmi IPB, keamanan perlu dinilai dengan mempertimbangkan bahan pewarna dan kemungkinan residunya.
Laporan CNBC Indonesia yang terbit pada Sabtu (7/11/2026) membahas anak ayam umur sehari yang bulunya diwarnai dan praktik penjualannya di Indonesia. Laporan tersebut menyebut anak ayam warna-warni dapat ditemukan di pasar tradisional.
Gilang mengatakan pewarnaan umumnya dilakukan oleh produsen atau pedagang agar anak ayam tampak unik dan bernilai jual sebagai hewan peliharaan atau hiburan. Anak ayam itu dapat berasal dari ayam pedaging yang tidak memenuhi standar seleksi kualitas dan umumnya tidak dipasarkan sebagai DOC untuk budi daya ayam pedaging komersial.
Menurut penjelasan Gilang, jika dipelihara hingga umur panen ayam pedaging, sekitar 28–35 hari, warna bulu dapat memudar atau hilang. Pertumbuhan, pergantian bulu, paparan lingkungan, dan aktivitas ayam dapat berpengaruh terhadap pudarnya warna.
Namun, hilangnya warna tidak membuktikan daging aman dikonsumsi, sementara riwayat pewarnaan juga tidak otomatis membuat daging tidak layak. Gilang mengatakan penilaian keamanan pangan perlu mempertimbangkan jenis pewarna, cara penggunaannya, serta kemungkinan residu bahan kimia pada jaringan ayam yang diperiksa melalui uji laboratorium.
Dari sisi kesejahteraan hewan, Gilang menilai praktik tersebut perlu menjadi perhatian. Penyemprotan atau pencelupan pewarna berpotensi menimbulkan stres dan ketidaknyamanan pada anak ayam.
Gilang juga menjelaskan bahwa anak ayam sehari belum memiliki kemampuan fisiologis yang sempurna untuk mengatur suhu tubuh. Pencelupan dapat menimbulkan risiko kehilangan panas tubuh, sedangkan pewarna berpotensi mengenai mata, terhirup, atau tertelan saat ayam membersihkan bulunya.
Jika bahan pewarna mengandung senyawa kimia yang tidak diperuntukkan bagi hewan, paparannya dapat menyebabkan iritasi atau efek toksik, bergantung pada bahan yang digunakan, kata Gilang. Ia menilai praktik pewarnaan untuk hiburan perlu dikaji secara kritis dan kelayakan dagingnya tetap memerlukan pemeriksaan residu serta evaluasi keamanan produk hewan.