
Oat dan Kacang Dapat Mendukung Penurunan Kolesterol
13 menit yang lalu
Bahasa Indonesia berkembang melalui pedoman lembaga, penggunaan masyarakat, dan kebutuhan zaman.
Terbit · 1 min read

ANTARA membahas proses pembentukan dan perkembangan bahasa Indonesia, termasuk peran lembaga bahasa, masyarakat, dan perubahan zaman dalam penerimaan istilah. Pembahasan itu ditulis Maria D Andriana dalam artikel yang diterbitkan pada Kamis (29/10/2026).
Artikel tersebut menyoroti penggunaan istilah teknologi seperti pemrograman, komputasi awan, dan perintah untuk kecerdasan buatan, yang kerap muncul sebelum padanan bahasa Indonesianya digunakan luas. ANTARA juga menyebut contoh padanan yang hidup berdampingan dengan istilah asalnya, seperti gawai dan peramban.
Menurut laporan ANTARA, tersedianya padanan tidak otomatis membuat masyarakat meninggalkan kata yang lebih dahulu akrab. Tetikus serta mangkus dan sangkil untuk efektif dan efisien disebut sebagai contoh padanan yang belum menjadi pilihan umum dalam komunikasi sehari-hari.
Artikel itu menjelaskan bahwa penerimaan istilah dipengaruhi kebiasaan, kemudahan, konteks, dan pemakaian masyarakat. Proses pembentukan istilah, menurut tulisan tersebut, tidak berhenti pada perumusan atau pencantuman dalam kamus.
ANTARA menguraikan sejarah bahasa Indonesia yang berakar pada bahasa Melayu, yang digunakan sebagai bahasa perhubungan dan perdagangan di Nusantara. Tulisan itu menyebut Prasasti Kedukan Bukit bertarikh 683 M dan Prasasti Kota Kapur bertarikh 686 M sebagai jejak bahasa Melayu Kuno.
Artikel tersebut juga memaparkan perubahan ejaan, dari Ejaan van Ophuijsen yang diperkenalkan pada 1901, Ejaan Republik pada 1947, hingga Ejaan yang Disempurnakan yang diresmikan pada 1972 dan diperbarui menjadi Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan Edisi V pada 2022.
Dalam pembahasan nama negara, ANTARA menyebut dokumen pemutakhiran yang dibawa Indonesia ke sidang UNGEGN di New York pada 2025. Contoh penyesuaian yang diajukan dalam dokumen itu antara lain Thailand menjadi Tailan, Uruguay menjadi Uruguai, Bhutan menjadi Butan, dan Chile menjadi Cili.
Tulisan tersebut menyimpulkan bahwa lembaga bahasa berperan merumuskan pedoman, sementara masyarakat menghidupkan istilah dalam penggunaan sehari-hari. Media massa juga disebut berperan memperkenalkan istilah melalui pemakaian yang konsisten dan penjelasan saat diperlukan.