
Tito Minta Bantuan Karhutla Dioptimalkan
14 menit yang lalu
Dua terminal Bandara King Khalid Riyadh kembali beroperasi, sementara Houthi mengancam akan terus menyerang.
Terbit · 2 min read

Menurut laporan ANTARA, Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, Arab Saudi, kembali melayani sebagian penerbangan pada Minggu (25/10/2026). Bandara itu sebelumnya ditutup sekitar dua pekan akibat serangan kelompok Houthi dari Yaman.
Stasiun televisi nasional Al Arabiya melaporkan dimulainya kembali aktivitas penerbangan itu dengan menyiarkan rekaman dari dalam dua terminal yang telah dibuka. Saluran televisi pemerintah AlEkhbariya menyebutkan Terminal 1 beroperasi untuk penerbangan domestik, sedangkan Terminal 2 untuk penerbangan internasional yang dioperasikan maskapai Saudi.
Pembukaan kembali bandara dilakukan setelah koordinasi intensif antara Otoritas Umum Penerbangan Sipil (GACA) dan berbagai badan keamanan serta teknis. Koordinasi itu bertujuan memastikan kesiapan bandara serta kepatuhan terhadap standar keselamatan dan keamanan.
Menurut laporan yang sama, pengoperasian kembali bandara baru mencakup dua terminal. Belum ada pengumuman resmi mengenai kembalinya kapasitas operasional secara penuh.
Manajemen bandara juga belum mengeluarkan pernyataan baru tentang dibukanya kembali penerbangan. Pada pengumuman Sabtu (24/10/2026), pihak manajemen mengalokasikan kedua terminal untuk layanan domestik dan internasional.
Dalam pengumuman itu, manajemen mengimbau penumpang yang memiliki tiket terkonfirmasi agar menghubungi maskapai masing-masing. Penumpang diminta memeriksa status reservasi dan penerbangan sebelum mendatangi bandara.
Operasional penerbangan di bandara tersebut sebelumnya dihentikan setelah serangan Houthi pada 10 Oktober 2026. Serangan itu menewaskan 13 orang dan melukai lebih dari 300 orang lainnya.
Seiring kembalinya aktivitas penerbangan, juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, kembali memperingatkan maskapai, karyawan, dan penumpang agar tidak menggunakan bandara tersebut. Dalam pernyataannya, Saree menilai bandara itu tidak aman karena menjadi sasaran militer bagi pasukan Houthi, dan kelompoknya akan melanjutkan operasi terhadap fasilitas publik itu.
Saree juga menegaskan bahwa pihak berwenang Arab Saudi bertanggung jawab penuh atas dibukanya kembali bandara beserta segala konsekuensinya. Houthi menguasai ibu kota Yaman, Sanaa, dan sejumlah wilayah lain sejak 2014, lalu kembali bertempur dengan pasukan pemerintah yang didukung Saudi pada Juli lalu seiring runtuhnya gencatan senjata 2022. Menurut ANTARA, kelompok itu juga kerap menargetkan fasilitas energi Arab Saudi.