
OJK Akan Koordinasi soal Peringkat Pasar Indonesia
13 menit yang lalu
IHSG melemah tipis 0,34 persen pada Senin pagi saat investor menunggu pertemuan The Fed dan memantau Timur Tengah.
Terbit · 3 min read

Menurut laporan ANTARA, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin (26/10/2026) bergerak mendatar karena pelaku pasar menunggu kebijakan suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat (AS), The Fed.
Setelah dibuka menguat, IHSG pada pukul 09.46 WIB melemah 18,28 poin atau 0,34 persen ke posisi 5.420,98. Indeks LQ45 yang berisi 45 saham unggulan turun 2,61 poin atau 0,48 persen ke posisi 544,44.
Kepala Riset Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata dalam kajiannya di Jakarta, Senin, menyebut IHSG berpotensi melanjutkan penguatan menuju area hambatan 5.520 serta 5.607-5.631 bila bertahan di atas level 5.424. Bila terjadi aksi ambil untung dan indeks gagal bertahan di level itu, IHSG bisa kembali ke 5.328 dan berpotensi menguji area dukungan 5.278 atau 5.185.
Dari mancanegara, ketegangan di Timur Tengah meningkat setelah Presiden AS Donald Trump menegaskan konflik dengan Iran tidak akan berakhir sebelum kemampuan nuklir Teheran dipastikan lumpuh, meski ia menyatakan tidak ada serangan AS pada Minggu (25/10/2026). Kedutaan Besar AS memerintahkan staf yang tidak bertugas esensial dan keluarga mereka meninggalkan Arab Saudi menyusul serangan Houthi yang dilaporkan melibatkan 10 rudal serta menyebabkan dua orang terluka dan kerusakan properti.
Menurut laporan yang sama, sejumlah negara Teluk mengecam serangan tersebut, sedangkan Iran menilai negosiasi dengan Washington tidak bermakna sebelum tujuh persyaratannya dipenuhi. The Fed diperkirakan mempertahankan suku bunga acuannya pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) 28-29 Oktober 2026, dan menurut Liza, investor akan mencermati pernyataan resminya untuk mencari petunjuk perubahan kebijakan pada pertemuan Desember 2026.
Dari AS, sentimen pasar dibayangi kekhawatiran terhadap keberlanjutan investasi kecerdasan buatan (AI), terutama besarnya belanja modal pusat data dan kemampuan perusahaan mempertahankan tingkat pengembalian investasi. Sekitar sepertiga perusahaan S&P 500 dijadwalkan merilis laporan keuangan kuartalan pada pekan depan, termasuk Alphabet, Microsoft, dan Amazon, sementara laba perusahaan S&P 500 pada kuartal ketiga 2026 diproyeksikan naik lebih dari 32 persen berdasarkan data LSEG IBES. Sentimen konsumen AS melemah mendekati rekor terendah pada Oktober 2026, dan pemilihan paruh waktu AS pada 3 November 2026 menjadi agenda politik penting karena akan menentukan komposisi dan kendali Kongres.
Dari dalam negeri, rencana mandatori biodiesel B50 menjadi perhatian pasar komoditas karena berpotensi meningkatkan kebutuhan minyak sawit domestik dan memengaruhi keseimbangan pasokan global. Danantara Indonesia menargetkan profitabilitas perusahaan BUMN mencapai Rp334 triliun hingga akhir 2026, dengan penyederhanaan struktur telah dilakukan terhadap 364 perusahaan dan ditargetkan mencapai 700 perusahaan pada akhir Desember 2026. Realisasi investasi Indonesia selama Oktober 2024 sampai September 2026 mencapai Rp3.923,2 triliun, terdiri atas penanaman modal dalam negeri Rp1.998,7 triliun dan investasi asing Rp1.924,5 triliun, dengan penyerapan sekitar 5,49 juta tenaga kerja.
Fitch Ratings memperkirakan ekonomi Indonesia tumbuh melambat menjadi 5,2 persen sepanjang 2026, di bawah target pemerintah sebesar 5,4 persen. Setelah tumbuh 5,4 persen secara tahunan pada semester I-2026, pertumbuhan diproyeksikan turun di bawah 5 persen pada semester II-2026 akibat berkurangnya dorongan belanja pemerintah, kenaikan harga energi global akibat konflik AS-Iran, dan melemahnya kepercayaan konsumen.
Bursa Eropa kompak melemah pada penutupan Jumat (23/10/2026), dengan FTSE 100 turun 0,32 persen, DAX 0,75 persen, CAC 40 0,36 persen, dan Euro Stoxx 50 0,31 persen. Di Wall Street, S&P 500 melemah 0,52 persen ke 7.623,68, Nasdaq Composite turun 0,21 persen ke 25.954,34, dan Dow Jones Industrial Average turun 1,23 persen ke 51.215,16, sedangkan bursa Asia pada Senin pagi, seperti Nikkei, Hang Seng, Kospi, Shanghai, dan Strait Times, juga bergerak melemah.