
Musim Mas Rampungkan Program Petani di Subulussalam
11 menit yang lalu
Forum di Washington disiapkan untuk menggalang dukungan global bagi perlindungan Segitiga Terumbu Karang.
Terbit · 2 min read

Menurut laporan ANTARA, Kedutaan Besar Republik Indonesia di Washington, D.C., Amerika Serikat menggandeng Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk menyelenggarakan forum kolaborasi dengan berbagai institusi keuangan dan lembaga konservasi global. Forum itu bertujuan melindungi kawasan Segitiga Terumbu Karang (Coral Triangle).
Forum tersebut dijadwalkan berlangsung di Washington, D.C., pada musim semi tahun depan. Pihak yang dilibatkan antara lain Bank Dunia, International Union for Conservation of Nature (IUCN), World Wide Fund for Nature (WWF), The Nature Conservancy (TNC), World Resources Institute (WRI), Conservation International (CI), dan Global Environment Facility (GEF).
Dalam pernyataan resmi yang diterima di Jakarta, Minggu (25/10/2026), Duta Besar Republik Indonesia untuk Amerika Serikat Indroyono Soesilo menyatakan bahwa pelestarian terumbu karang tidak hanya menyangkut perlindungan ekosistem maritim. Menurut dia, hal itu juga berkaitan erat dengan ketahanan pangan, keberlanjutan ekonomi biru, dan kesejahteraan masyarakat pesisir.
“Karena itu, diperlukan kolaborasi internasional yang kuat agar kekayaan laut Indonesia dapat terus terjaga dan memberikan manfaat bagi generasi mendatang,” ujarnya.
Indroyono menuturkan, Indonesia berupaya mempertemukan kepentingan konservasi dengan agenda pembangunan ekonomi dan ketahanan pangan melalui forum kemitraan tersebut. Dukungan internasional yang diperoleh diharapkan dapat diwujudkan menjadi program pembiayaan, pertukaran ilmu pengetahuan, dan program nyata yang bermanfaat bagi ekosistem laut serta masyarakat pesisir.
Menurut laporan yang sama, kawasan Segitiga Terumbu Karang mencakup enam negara, yakni Indonesia, Malaysia, Papua Nugini, Filipina, Kepulauan Solomon, dan Timor Leste, dengan wilayah laut seluas lebih dari enam juta kilometer persegi. Luas area terumbu karang di kawasan itu diperkirakan mencapai 75.000 kilometer persegi, dan Indonesia memiliki sekitar 60.000 kilometer persegi, cakupan terbesar di kawasan tersebut.
Kawasan itu menjadi habitat lebih dari 3.000 spesies ikan karang dan sekitar 76 persen spesies terumbu karang dunia. Lebih dari 120 juta penduduk di kawasan tersebut bergantung langsung pada laut untuk pangan dan penghidupan, sedangkan terumbu karang melindungi sekitar 26 juta penduduk pesisir dari gelombang laut dan badai. Potensi nilai ekonomi tahunan diperkirakan mencapai 3 miliar dolar AS (sekitar Rp54,22 triliun) dari perikanan terumbu karang, 1,5 miliar dolar AS (Rp27,11 triliun) dari perikanan tuna, dan 12 miliar dolar AS (Rp216,89 triliun) dari pariwisata alam.
Menurut laporan yang sama, Indonesia telah berpengalaman mengelola kemitraan internasional untuk konservasi terumbu karang. Coral Reef Rehabilitation and Management Program - Coral Triangle Initiative (COREMAP-CTI), yang ditutup pada 2022, memperoleh pinjaman Bank Dunia 47,38 juta dolar AS (Rp856,35 miliar), hibah GEF 10 juta dolar AS (Rp180,74 miliar), serta kontribusi pemerintah Indonesia 5,74 juta dolar AS (Rp103,74 miliar).
Program itu dilanjutkan dengan Oceans for Prosperity Program atau Program Laut untuk Kesejahteraan (LAUTRA) senilai 210 juta dolar AS (Rp3,79 triliun). Program yang dikelola KKP bersama Kementerian Perencanaan dan Pembangunan Nasional itu diarahkan memperkuat 8,3 juta hektare kawasan konservasi maritim di 11 provinsi, dengan dukungan hibah PROBLUE Multi-Donor Trust Fund sebesar 5 juta dolar AS (Rp90,37 miliar) dan Pemerintah Kanada sebesar 7,3 juta dolar AS (Rp131,94 miliar).