
Danantara Larang Petinggi BUMN Pakai Patwal
12 menit yang lalu
Kemenhub meminta KAI mempercepat pengadaan rangkaian KRL berkapasitas lebih besar untuk mengurangi kepadatan penumpang.
Terbit · 2 min read

Menurut laporan CNBC Indonesia, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mendesak PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI mempercepat pengadaan rangkaian kereta rel listrik (KRL) berkapasitas lebih besar. Langkah itu dinilai perlu untuk mengatasi kepadatan penumpang Commuter Line, terutama pada jam sibuk.
Direktur Jenderal Perkeretaapian Kemenhub Allan Tandiono menyampaikan hal tersebut kepada wartawan dalam diskusi Forwahub di Jakarta, Senin (26/10/2026). Ia mengatakan persoalan kepadatan KRL secara garis besar berkaitan dengan kapasitas angkut yang belum mencukupi kebutuhan penumpang.
Karena itu, menurut Allan, penambahan rangkaian kereta menjadi salah satu langkah yang perlu segera dilakukan.
Allan menuturkan, KAI telah menyampaikan rencana membangun tambahan gardu listrik di lintas Green Line. Penambahan infrastruktur kelistrikan itu diperlukan agar rangkaian 12 kereta (12 SF) dapat segera dioperasikan pada tahun depan.
Selain infrastruktur, Kemenhub meminta KAI mempercepat pengadaan rangkaian dengan formasi 12 kereta. Menurut Allan, dengan gerbong yang lebih banyak, sekali jalan kereta dapat mengangkut lebih banyak penumpang, terutama pada jam sibuk.
Kebutuhan penambahan armada itu sejalan dengan peningkatan jumlah pengguna KRL Jabodetabek. Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin sebelumnya menyampaikan dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VI DPR RI, Rabu (23/9/2026), bahwa jumlah penumpang pada semester I-2026 tumbuh 11,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan itu jauh di atas perkiraan awal sebesar 3 persen hingga 4 persen.
Bobby menyebut rata-rata penumpang harian yang sebelumnya di bawah 1 juta orang kini mencapai 1,1 juta orang.
Di sisi lain, Kemenhub menyoroti percepatan pengadaan KRL baru. Menurut laporan yang sama, dari 35 rangkaian baru yang disetujui sejak 2023, sebanyak 11 rangkaian impor dari China telah beroperasi. Dari 16 rangkaian yang diproduksi PT INKA, tujuh telah beroperasi dan sembilan lainnya masih dalam proses produksi.
Allan mengatakan masih ada delapan rangkaian yang perlu segera diadakan untuk memenuhi komitmen pengadaan 35 rangkaian baru tersebut. Ia menyebut kebutuhan itu mendesak karena dirasakan di stasiun dan di lapangan. Kemenhub berharap penambahan rangkaian berkapasitas lebih besar dapat mengurangi kepadatan sekaligus meningkatkan kualitas layanan KRL Jabodetabek.