
Kapolda Jatim Bahas Hak Buruh dengan KSPI
18 menit yang lalu
Pelatihan regional di Jakarta membahas mitigasi risiko satwa liar di bandar udara bersama sembilan negara Asia Tenggara.
Terbit · 2 min read

Kementerian Perhubungan (Kemenhub) bersama sembilan negara Asia Tenggara memperkuat keselamatan penerbangan melalui pengelolaan risiko satwa liar di bandar udara. Menurut laporan ANTARA, Direktur Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub Putu Eka Cahyadhi menyebut kolaborasi regional penting untuk menangani tantangan keselamatan penerbangan.
Indonesia menjadi tuan rumah pelatihan regional COSCAP-SEA dan WBA tentang pengelolaan risiko satwa liar berbasis risiko. Kegiatan berlangsung pada 2–6 November 2026 di Jakarta dan diikuti 50 peserta dari Indonesia, Vietnam, Brunei Darussalam, Malaysia, Thailand, Singapura, Laos, Kamboja, dan Filipina.
Pelatihan tersebut bertajuk Pengelolaan Terpadu Risiko Satwa Liar—Pendekatan Berbasis Risiko untuk Keselamatan Penerbangan. Kegiatan diselenggarakan bersama Program Pengembangan Kerja Sama untuk Keselamatan Operasional dan Kelaikudaraan Berkelanjutan Organisasi Penerbangan Sipil Internasional untuk Asia Tenggara (COSCAP-SEA) dan Asosiasi Tabrakan Burung Dunia (WBA). Putu hadir mewakili Direktur Jenderal Perhubungan Udara Lukman F. Laisa, yang menjabat Ketua COSCAP-SEA.
Putu mengatakan pengelolaan risiko satwa liar merupakan bagian penting dari keselamatan penerbangan. Menurutnya, upaya tersebut tidak cukup hanya dengan mengusir atau mengendalikan satwa, tetapi juga perlu mengenali potensi bahaya dan memastikan mitigasi berjalan efektif.
Berdasarkan Rencana Keselamatan Penerbangan Regional Asia-Pasifik 2026–2028 yang dikutip dalam laporan ANTARA, analisis ICAO terhadap rencana keselamatan penerbangan nasional dari 14 negara atau administrasi di Asia Pasifik menunjukkan 12 di antaranya mengidentifikasi risiko operasional tambahan di luar kategori risiko tinggi global. Risiko tabrakan dengan burung atau satwa liar menjadi risiko tambahan yang paling banyak diidentifikasi, yakni oleh delapan negara atau administrasi.
Menurut laporan yang sama, potensi bahaya satwa liar perlu diantisipasi terutama saat pesawat lepas landas dan mendarat, meskipun tidak semua tabrakan berujung pada kecelakaan atau insiden serius. Indonesia menghadapi tantangan karena kondisi kepulauan dan beragam ekosistem, serta bandar udara yang berdekatan dengan pesisir, lahan basah, hutan, lahan pertanian, dan kawasan perkotaan.
Kondisi lingkungan, keberadaan beragam spesies burung termasuk burung migran, serta pola aktivitas satwa di sekitar bandar udara perlu dipertimbangkan dalam pengelolaan risiko. Putu menyatakan bahwa mitigasi yang efektif diharapkan mengurangi gangguan terhadap operasi pesawat dan mendukung keselamatan pengguna transportasi udara.
Pelatihan dilengkapi kunjungan lapangan ke Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta di Cengkareng, Tangerang. Peserta mempelajari potensi bahaya satwa liar serta penerapan mitigasi dan pengendalian risiko dalam kegiatan operasional bandar udara. Kemenhub menyatakan akan terus memperkuat kolaborasi regional dan pengawasan berbasis risiko.