
Peserta Apresiasi Wirasena Youth Camp 2026
16 menit yang lalu
Menteri Dalam Negeri Prancis menyebut lebih dari 500 orang terluka dan 1.435 ditahan dalam demo akhir pekan.
Terbit · 1 min read

Menurut laporan ANTARA, lebih dari 500 orang terluka dalam demonstrasi Rompi Kuning di seluruh Prancis pada Sabtu (24/10/2026). Angka itu disampaikan Menteri Dalam Negeri Prancis Laurent Nunez.
Nunez menyampaikannya kepada saluran penyiaran Prancis, BFMTV, pada Senin (26/10/2026). Ia menyebut korban luka terdiri atas 267 petugas penegak hukum dan lebih dari 250 pengunjuk rasa.
Menurut Nunez, setidaknya 1.435 orang ditahan di seluruh negeri selama akhir pekan. Penahanan itu terjadi dalam aksi protes menentang kenaikan biaya hidup.
Meski ada korban luka dan penahanan, menteri tersebut menyatakan tidak ada insiden besar selama demonstrasi pada Sabtu. Ia menyebut tiga orang mengalami luka serius di Toulouse, Reims, dan Clermont-Ferrand.
Nunez juga membela kebijakan pembatasan jam malam parsial di beberapa kota di Prancis. Menurut dia, pihak prefektur berwenang menerapkan pembatasan itu jika ada risiko gangguan terhadap ketertiban umum.
Ia menyatakan situasi tidak akan banyak berubah dalam beberapa hari ke depan. Pembatasan jam malam parsial masih berlaku di sekitar 10 lokasi dan akan terus diterapkan prefektur yang berkoordinasi dengan pemerintah kota setempat.
Menanggapi bentrokan yang melibatkan kelompok penentang gerakan Rompi Kuning di Nice dan Montpellier pada Sabtu, Nunez menegaskan polisi tidak memberikan perlindungan kepada sejumlah kelompok tersebut. Ia juga mengakui adanya kesalahan penanganan oleh pihak berwenang pada gelombang demonstrasi Rompi Kuning sebelumnya, 17 Oktober 2026.
Secara terpisah, Nunez menyebut serangan di Trappes, wilayah Yvelines, pada Jumat (23/10/2026) sebagai tindakan terorisme bermotif rasial. Menurut dia, pelaku berupaya membunuh orang-orang dari luar Prancis yang menurut pandangan pelaku tidak seharusnya diintegrasikan ke dalam masyarakat Prancis.
Nunez menekankan bahwa kemungkinan pelaku menderita skizofrenia tidak mengubah klasifikasi insiden itu sebagai terorisme. Menurut laporan yang sama, ia menyatakan pelaku didorong oleh kebencian dan rasisme.