
ANTARA Rekomendasikan Lima Gunung untuk Pemula
11 menit yang lalu
Permainan bertema properti itu berkembang saat Depresi Besar melanda Amerika Serikat.
Terbit · 1 min read

Di tengah pengangguran dan sulitnya mengumpulkan kekayaan pada masa Depresi Besar, banyak orang mencari hiburan dengan berpura-pura menjadi orang kaya lewat permainan yang kini disebut Monopoli. Menurut laporan CNBC Indonesia yang mengutip The Guardian dan situs History, permainan bertema properti itu diperkenalkan pada 1932.
Saat itu, Depresi Besar masih menghantam perekonomian Amerika Serikat. Pengusaha asal Philadelphia, Charles Todd, dan istrinya, Olive, memperkenalkan permainan tersebut kepada Charles Darrow dan istrinya, Esther.
Pemain melempar dadu untuk menggerakkan bidak di papan. Mereka dapat membeli properti saat berhenti di petak tertentu atau membayar biaya kepada pemiliknya.
Permainan berlanjut dalam persaingan mengumpulkan kekayaan hingga ada pemain yang kehabisan uang. Menurut laporan CNBC Indonesia yang mengutip The Guardian, keluarga Darrow menyukai permainan tersebut; Todd lalu membuatkan satu set khusus dan mengajarkan aturan tambahan.
Permainan yang belum memiliki nama itu kemudian menyebar secara informal di antara teman-teman mereka. Karena pemain bersaing menguasai properti dan mengumpulkan kekayaan, permainan tersebut lalu dikenal sebagai Monopoli.
Permainan itu diminati masyarakat karena memberi kesempatan merasakan kepemilikan properti dan persaingan bisnis tanpa mempertaruhkan kondisi keuangan nyata. Satu sesi dapat berlangsung berjam-jam dan menjadi kegiatan bersama keluarga di tengah ketidakpastian ekonomi.
Menurut laporan CNBC Indonesia yang mengutip situs History, kesempatan mengumpulkan kekayaan dan mengalahkan lawan memberi kepuasan psikologis. Permainan itu memungkinkan persaingan tanpa konsekuensi serius seperti dalam kehidupan nyata.
Sejarawan Mary Pilon, dalam kutipan situs History yang dimuat CNBC Indonesia, menjelaskan bahwa daya tarik Monopoli juga terletak pada peluang memperoleh keuntungan pribadi dan sifat kompetitif pemain. Menurut Pilon, permainan itu dapat menjadi sarana melepas ketegangan sehari-hari tanpa harus menganggap persaingan di dalamnya sebagai perkara serius.