
Keputusan The Fed Memengaruhi Rupiah
10 menit yang lalu
Dokumenter ini merekam tantangan pelestarian film dan memantik diskusi tentang pentingnya arsip.
Terbit · 2 min read

Dokumenter Behind the Flickering Light: The Archive diputar dalam Tokyo International Film Festival 2026. Menurut laporan ANTARA, pemutaran itu menjadi bagian dari program CROSSCUT ASIA+ yang juga diselenggarakan Japan Foundation.
Fuad Fauji, salah satu pembuat film, berbicara kepada ANTARA di Tokyo pada Rabu (28/10/2026). Dokumenter berdurasi 160 menit itu dibuat Fuad, Hafiz Rancajale, dan Mahardika Yudha bersama Misbach.
Fuad mengatakan film tersebut diputar karena temanya sejalan dengan pembahasan festival mengenai pentingnya arsip film sebagai jejak kebudayaan. Film itu merekam kondisi pelestarian yang dihadapi Misbach, termasuk memburuknya kondisi fisik seluloid dan fasilitas yang memprihatinkan.
Sutradara dan penulis skenario Misbach Yusa Biran mendirikan Sinematek Indonesia pada 1975. Menurut laporan yang sama, lembaga itu merupakan arsip film pertama di Asia Tenggara; Misbach mengirim proposal pembentukan lembaga kepada Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin, yang menyetujuinya.
Dalam diskusi di festival, Fuad mengatakan Misbach semula enggan ikut serta dalam film biografi itu karena sejumlah sutradara telah membuat biografi tentang dirinya. Fuad mengenang proses produksi film berlangsung sekitar lima tahun sebelum dirilis pada 2013.
Misbach, yang saat itu sedang sakit, tetap mendukung penyelesaian film, tetapi meninggal dunia di tengah proses pembuatannya. Para pembuat film kemudian memikirkan kembali cara mengolah rekaman yang tersisa menjadi refleksi tentang pelestarian.
Mohammad Fachrizal, staf Sinematek Indonesia yang menangani perawatan dan pemeliharaan film, mengatakan kondisi lembaga itu kini membaik setelah revitalisasi fasilitas dan penataan koleksi. Menurut laporan yang sama, pendataan ulang poster sedang berlangsung, sedangkan pendataan seluloid dan digitalisasi disebut sebagai rencana berikutnya.
Fuad mengatakan jumlah sineas yang tergerak menitipkan arsip di Sinematek berkurang setelah digitalisasi memudahkan rumah produksi menyimpan arsip sendiri. Ia berharap penayangan dokumenter di hadapan khalayak Jepang menjadi pelajaran. Fuad juga menilai Sinematek tetap relevan karena pengelolaan dan akses publik terhadap arsip digital masih dirumuskan.
Karya tersebut terus memantik percakapan tentang pelestarian film dan sejarah sinema. Dalam diskusi, kurator Arsip Film Nasional Jepang Okada Hidenori mengenang Misbach sebagai guru, pendidik, sutradara, dan sosok yang mendedikasikan diri untuk film. Okada berbagi cerita mengenai pengarsipan film di Jepang sejak 1970-an dan mengatakan kisah Fuad serta Rizal mengingatkannya pada masa perjuangan arsip film di Jepang.