
BP MPR Bahas Desentralisasi dan Demokrasi Lokal
13 menit yang lalu
Otoritas Thailand melaporkan kasus mpox dan mendorong pemeriksaan dini serta pencegahan penularan.
Terbit · 2 min read

Thailand melaporkan 470 kasus mpox dan tiga kematian selama 1 Januari hingga 31 Oktober 2026. Menurut laporan Straits Times, Direktur Jenderal Departemen Pengendalian Penyakit Thailand, Montien Kanasawadse, menyampaikan data itu pada Selasa (3/11/2026) dan mengimbau masyarakat memeriksakan diri jika mengalami gejala.
Montien menekankan pentingnya deteksi dini, pengawasan penyakit, dan pencegahan penularan. Ia mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan ruam, lepuhan, atau luka kulit yang tidak biasa, terutama jika ada kemungkinan terpapar virus.
Gejala awal mpox dapat berupa demam, sakit kepala, nyeri punggung dan otot, serta pembengkakan kelenjar getah bening. Bintik merah pada kulit dapat berkembang menjadi lepuhan berisi cairan, lesi bernanah, lalu mengering dan membentuk keropeng; ruam atau lesi dapat muncul di wajah, tubuh, area genital, maupun sekitar anus.
Namun, gejala tidak selalu muncul dalam urutan yang sama dan tidak semua pasien mengalami seluruh tanda tersebut. Masyarakat disarankan mencari pertolongan medis jika mengalami nyeri hebat, kesulitan makan atau minum, lesi di sekitar mata, atau kondisi kesehatan yang memburuk.
Thailand mengawasi mpox berdasarkan Undang-Undang Penyakit Menular 2015 dan pemberitahuan Kementerian Kesehatan Masyarakat Thailand pada 2022. Data global yang dikutip Departemen Pengendalian Penyakit Thailand merujuk laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang diterbitkan pada 14 September, dengan 68.096 kasus terkonfirmasi dan 272 kematian di 107 negara selama 1 Januari hingga 31 Agustus 2025. Periode pelaporan data global itu berbeda dari statistik Thailand sepanjang 2026.
Diagnosis mpox tidak dapat dipastikan hanya dari ruam atau foto kulit karena gejalanya dapat menyerupai penyakit lain. Pemeriksaan utama untuk memastikan infeksi adalah tes PCR menggunakan sampel dari lesi; tes darah rutin tidak dapat mengonfirmasi mpox.
Menurut Wakil Direktur Jenderal Departemen Pengendalian Penyakit Thailand, Direk Khampaen, sebagian besar penderita dapat pulih tanpa pengobatan khusus. Orang dengan kekebalan tubuh lemah, ibu hamil, dan anak-anak kecil berisiko mengalami kondisi parah dan memerlukan pemantauan lebih intensif.
Dokter menentukan kebutuhan pengobatan tambahan atau rawat inap berdasarkan kondisi masing-masing pasien. Departemen tersebut mengimbau masyarakat menghindari kontak langsung dengan kulit atau lesi penderita dan tidak berbagi pakaian, handuk, atau perlengkapan tidur. Orang yang menunggu pemeriksaan atau hasil tes disarankan memisahkan diri, menghindari kontak dekat, dan menutup luka. Pencegahan lainnya mencakup mencuci tangan dengan sabun atau cairan pembersih berbasis alkohol 70 persen serta memakai masker yang terpasang baik. Isolasi dilanjutkan hingga seluruh luka sembuh, keropeng terlepas, kulit baru terbentuk, dan lesi pada selaput lendir atau mukosa sembuh. Montien mengingatkan masyarakat agar tidak memberikan stigma atau melakukan diskriminasi terhadap penderita mpox.