
Ombudsman Soroti Layanan Jaminan Sosial
19 menit yang lalu
Kematian jurnalis meningkat 20 persen, dengan sebagian besar terjadi di wilayah konflik bersenjata.
Terbit · 1 min read

Menurut laporan ANTARA yang mengutip laporan terbaru UNESCO, sebanyak 189 jurnalis, pekerja media, dan pembuat konten media sosial yang terlibat dalam kegiatan jurnalistik gugur di seluruh dunia pada periode 2024–2025. Jumlah itu meningkat 20 persen dibandingkan periode sebelumnya.
UNESCO mencatat kematian tersebut sejak 1 Januari 2024 hingga 31 Desember 2025. Laporan itu menyebut jumlah jurnalis yang gugur pada 2025 merupakan yang tertinggi dalam delapan tahun terakhir.
Sebagian besar kematian terjadi dalam konteks konflik bersenjata, termasuk akibat serangan pesawat nirawak. UNESCO mencatat 127 kasus pembunuhan jurnalis di negara-negara yang menghadapi konflik selama periode tersebut.
Jumlah itu setara dengan 67 persen dari total kematian yang dicatat UNESCO. Data yang tersedia menunjukkan 40 persen kematian dalam kategori tersebut diakibatkan penggunaan pesawat nirawak.
Secara keseluruhan, sedikitnya 50 jurnalis gugur di enam negara akibat serangan pesawat nirawak sepanjang 2024–2025, menurut laporan UNESCO.
Jumlah kematian tertinggi tercatat di negara-negara Arab, yakni 97 orang, serta di Amerika Latin dan Karibia, sebanyak 37 orang. Palestina menjadi lokasi dengan jumlah kematian jurnalis terbanyak, dengan sedikitnya 62 pekerja media gugur.
Laporan tersebut juga mencatat 12 jurnalis tewas di Ukraina dan dua orang di Federasi Rusia selama periode 2024–2025. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova mengatakan nama sejumlah jurnalis Rusia yang menurutnya dibunuh milisi rezim Kiev kembali tidak dicantumkan dalam laporan UNESCO.