
PLN Sambungkan Listrik Gratis untuk Tiga Keluarga di Langkat
13 menit yang lalu
Kemenangan El-Sayed disebut menjadi tonggak keterwakilan Muslim di Senat Amerika Serikat.
Terbit · 1 min read

Menurut laporan CNBC Indonesia yang mengutip Reuters, Abdul El-Sayed dari Partai Demokrat memenangkan kursi Senat Amerika Serikat untuk Michigan setelah mengalahkan Mike Rogers dari Partai Republik. Kemenangan itu menjadikannya Muslim pertama yang terpilih menjadi anggota Senat AS, menurut laporan tersebut.
El-Sayed merayakan kemenangan di Detroit, Michigan, pada Rabu (4/11/2026) waktu setempat. Kursi yang dimenangkannya sebelumnya ditinggalkan Senator Demokrat Gary Peters, yang memutuskan pensiun.
Politikus berusia 42 tahun itu merupakan keturunan Mesir dan lahir di Rochester Hills, Michigan, dari pasangan imigran Mesir. Sebelum terjun ke politik, ia berkarier di bidang kedokteran dan kesehatan masyarakat.
El-Sayed lulus dari University of Michigan pada 2007, meraih gelar doktor kesehatan masyarakat dari University of Oxford pada 2011 sebagai penerima beasiswa Rhodes, lalu memperoleh gelar kedokteran dari Columbia University pada 2014. Pada 2015, ia diangkat menjadi direktur kesehatan Detroit dan mengawasi upaya membangun kembali layanan kesehatan masyarakat setelah kota itu mengalami krisis keuangan.
Ia menjabat sebagai direktur kesehatan hingga 2017, kemudian mencalonkan diri sebagai gubernur Michigan pada 2018. Ia kalah dari Gretchen Whitmer dalam pemilihan pendahuluan Partai Demokrat. Pada 2023–2025, El-Sayed memimpin Departemen Kesehatan, Layanan Kemanusiaan, dan Veteran Wayne County, yang mencakup Detroit.
El-Sayed kembali mengikuti pemilihan pada 2026 dan pada Agustus mengalahkan Haley Stevens dalam pemilihan pendahuluan Demokrat untuk kursi Senat Michigan. Kampanyenya didukung sejumlah politikus progresif, termasuk Senator Bernie Sanders, anggota DPR Alexandria Ocasio-Cortez, dan anggota DPR dari Michigan, Rashida Tlaib.
Dalam kampanye, ia mengusung perluasan akses layanan kesehatan melalui program Medicare for All, penurunan biaya perumahan, pembatasan pengaruh donor kaya dalam politik, serta penguatan peluang ekonomi keluarga pekerja. Dalam kebijakan luar negeri, ia mengkritik dukungan militer AS kepada Israel dan menyerukan penghentian bantuan militer tanpa syarat. Sikapnya terhadap Israel menjadi salah satu sumber kontroversi selama kampanye, menurut laporan yang sama.