
Jepang Tanggapi Kebakaran Padang Rumput Mongolia
12 menit yang lalu
Menlu RI menilai PBB perlu beradaptasi dan melibatkan negara berkembang dalam perundingan global.
Terbit · 1 min read

Menteri Luar Negeri RI Arrmanatha Nasir mendorong transformasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) agar mampu menjawab tantangan global dan menyelesaikan persoalan nyata. Menurut laporan ANTARA, ia menyampaikan hal itu dalam pidato peringatan Hari PBB di Jakarta.
Pidato tersebut disampaikan pada Selasa (27/10/2026). Arrmanatha menilai peran PBB perlu berkembang seiring perubahan dunia.
Selama 80 tahun terakhir, PBB menjadi salah satu lembaga utama dalam penetapan norma global, termasuk di bidang hak asasi manusia, hukum laut, dan pembangunan berkelanjutan, menurut Arrmanatha.
Ia mengatakan perkembangan kecerdasan buatan berlangsung cepat, sedangkan tata kelolanya belum mampu mengimbangi kemajuan teknologi. Kesenjangan itu, menurutnya, berisiko membagi dunia antara pihak yang menentukan arah perkembangan kecerdasan buatan dan pihak yang hanya menerima dampaknya.
Arrmanatha menegaskan negara-negara berkembang perlu dilibatkan dalam perundingan. Ia menilai pihak yang tidak ikut berunding berisiko menjadi pihak yang diperdagangkan.
Ia juga menyatakan komitmen Indonesia terhadap PBB dan sistem multilateral merupakan amanat konstitusi, bukan sekadar pilihan pragmatis. Kontribusi Indonesia, menurutnya, mencakup pengiriman pasukan penjaga perdamaian, keterlibatan dalam Dewan Keamanan PBB, serta dukungan terhadap hak asasi manusia dan sistem multilateral.
Dalam pidato itu, Arrmanatha mengajak generasi muda ikut membentuk masa depan melalui gagasan, partisipasi sebagai warga negara, dan tindakan nyata di berbagai bidang. Ia mengatakan, “Indonesia membutuhkan gagasan Anda, PBB membutuhkan keberanian Anda, dan masa depan menaruh harapan pada Anda semua.”