
Kadin Nilai Fundamental Ekonomi Masih Kuat
11 menit yang lalu
BGN menargetkan hingga 10.000 dapur menerapkan penyajian prasmanan dan terhubung ke pengawasan CCTV.
Terbit · 2 min read

Badan Gizi Nasional (BGN) menargetkan 5.000 hingga 10.000 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menerapkan penyajian Makan Bergizi Gratis (MBG) secara prasmanan sampai akhir 2026. Menurut laporan CNNIndonesia.com, Kepala BGN Sudaryono menyampaikan target itu dalam agenda Refleksi 100 Hari Kepemimpinan Kepala BGN di Jakarta Selatan, Kamis (29/10/2026).
Sudaryono mengatakan penyajian prasmanan ditujukan untuk mengurangi risiko keracunan dan makanan rusak, serta memastikan makanan tersaji hangat bagi siswa. Ia juga menyebut penerapan metode tersebut diharapkan dapat mencegah gangguan kesehatan.
Uji coba metode prasmanan telah dilakukan di 66 dapur dan, menurut Sudaryono, akan diperluas ke sekitar 230 dapur tambahan. Ia menilai pelaksanaan tahap awal sejauh ini positif.
Menurut penjelasan Sudaryono yang dikutip CNNIndonesia.com, makanan disajikan di setiap kelas, bukan dengan mengumpulkan seluruh siswa di satu tempat. Jumlah porsi yang dibawa ke kelas disesuaikan dengan jumlah siswa.
Sudaryono menjelaskan makanan dibawa dalam kondisi hangat dan suhunya dijaga minimal 60 derajat Celsius. Dengan demikian, makanan diharapkan bisa langsung disantap tanpa dipanaskan kembali di sekolah.
Siswa dapat mengambil tambahan makanan selama persediaan masih ada. Sudaryono mengatakan porsi awal tetap disesuaikan dengan kebutuhan gizi, sedangkan makanan tambahan disiapkan sebagai cadangan.
Sekolah dengan jumlah siswa besar dapat memiliki dapur di lingkungan sekolah. Sekolah yang siswanya lebih sedikit akan dilayani dapur terpusat; Sudaryono menyebut metode itu mengacu pada praktik penyediaan makanan di Jepang dan sejumlah negara Eropa.
Selain mengubah cara penyajian, BGN menargetkan 5.000 hingga 10.000 dapur dari sekitar 26.300 SPPG terhubung dengan CCTV hingga akhir 2026. Menurut Sudaryono, CCTV akan terhubung dengan sistem pemantauan terpusat berbasis kecerdasan buatan untuk mengawasi proses pengolahan dan mencegah pelanggaran prosedur operasional standar.
Sudaryono mengatakan sistem pemantauan itu dirancang membantu petugas mengenali praktik yang tidak sesuai standar sebelum makanan disajikan, seperti meletakkan bahan makanan di lantai, tidak menggunakan sarung tangan, atau memotong sayuran di tempat yang tidak semestinya. BGN berharap penyajian prasmanan dan pengawasan tersebut memperkuat pengendalian mutu makanan dalam program MBG.