
Helikopter Super Puma Diduga Jatuh di Barito
22 menit yang lalu
Kedutaan China menyebut benda yang ditemukan di Port Moresby sebagai botol anggur, sementara ABC melaporkannya sebagai proyektil artileri.
Terbit · 1 min read

Menurut laporan CNNIndonesia.com, Kedutaan Besar China di Port Moresby menyebut benda seberat 32 kilogram yang ditemukan di Papua Nugini sebagai botol anggur berbentuk cangkang. Pernyataan itu menuai sorotan dan sindiran di media sosial.
Benda tersebut ditemukan di dalam kontainer pengiriman di lokasi konstruksi di Port Moresby, ibu kota Papua Nugini, pekan lalu. Polisi setempat menangkap empat warga negara China terkait penemuan itu.
Kedutaan China menyatakan benda tersebut tidak berbahaya dan mengklaim bahwa aturan pengendalian senjata api di China membuat penyelundupan peluru artileri ilegal dari negara itu hampir mustahil.
Namun, menurut laporan stasiun penyiaran ABC Australia, benda tersebut adalah proyektil artileri Tipe 59 buatan China berkaliber 130 milimeter yang belum meledak. ABC, dengan mengutip sejumlah sumber, melaporkan proyektil itu mengandung bahan peledak kimia dan dilengkapi sumbu.
Menurut laporan ABC, aparat mengidentifikasi benda itu menggunakan mesin sinar-X sumbangan Australia kepada Kepolisian Kerajaan Papua Nugini. Kedutaan China menyatakan terus memberikan informasi kepada kepolisian setempat dan menunggu hasil penyelidikan.
Pernyataan kedutaan tentang botol anggur memicu sindiran warganet. Seperti dikutip The Independent, seorang pengguna Facebook mempertanyakan benda seberat 32 kilogram itu, sementara pengguna lain menyindirnya sebagai botol anggur paling meledak.
Insiden tersebut terjadi di tengah persaingan China dan Amerika Serikat untuk memperluas pengaruh di kawasan Pasifik. Menteri Luar Negeri China Wang Yi sebelumnya menyatakan hubungan Beijing dengan negara-negara kepulauan Pasifik bukan bagian dari persaingan geopolitik dan menggambarkannya sebagai kerja sama yang saling membantu.
China dan Papua Nugini telah menjalin hubungan diplomatik selama 50 tahun dan memperingatinya pada September. Beberapa bulan sebelumnya, Papua Nugini menutup kantor perwakilannya di Taiwan; China memuji langkah itu dan menyatakan siap melanjutkan kerja sama dengan Papua Nugini.