
ANTARA: Klaim Denda Rp17 Triliun adalah Hoaks
13 menit yang lalu
Jadwal produksi mencantumkan 90 peluncur untuk Iran, tetapi pengirimannya belum dipastikan.
Terbit · 1 min read

Dokumen industri pertahanan Rusia yang bocor mencantumkan rencana pasokan 90 peluncur rudal berpemandu kepada Iran. Menurut laporan CNBC Indonesia yang terbit Jumat (6/11/2026) dan mengutip The Guardian, berkas itu diperoleh firma intelijen swasta Ukraina, Dallas Analytics.
Jadwal produksi Vympel pada Mei 2024 mencantumkan pesanan tersebut dalam kontrak ekspor berkode “K-10” yang diidentifikasi sebagai Iran. Pengiriman direncanakan berlangsung dari akhir 2024 hingga Desember 2025.
Laporan itu menyebut peluncur tersebut untuk LMUR, yang kerap digunakan pasukan Rusia untuk menghantam target di Ukraina. Namun, belum dipastikan apakah peluncur yang tercantum dalam jadwal benar-benar telah dikirim ke Iran.
Jadwal terpisah dalam dokumen yang sama mencantumkan pengiriman enam pesawat latih Yak-130 ke Iran pada 2023. CNBC Indonesia menyebut catatan itu sejalan dengan berbagai laporan publik mengenai pengiriman pesawat tersebut.
Dokumen itu muncul di tengah hubungan militer Rusia dan Iran yang menurut laporan tersebut berkembang sejak 2022, ketika Iran menjadi pemasok penting drone serang Shahed bagi Rusia. Kedua negara menandatangani perjanjian kemitraan strategis pada 2025 dan mengadakan tiga pertemuan tingkat tinggi pada Oktober lalu.
Laporan itu juga mengutip penilaian pengamat bahwa Rusia mendapat keuntungan strategis dan ekonomi dari perang di Iran. Gangguan pelayaran di Selat Hormuz dan serangan terhadap infrastruktur di kawasan Teluk disebut berkaitan dengan lonjakan harga energi, sementara konflik mengalihkan perhatian internasional dari Ukraina.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump berdalih bahwa Rusia melakukan sangat sedikit hal, jika ada, untuk membantu Teheran. Laporan tersebut menyebut pernyataan itu berbeda dengan temuan intelijen Eropa yang menuduh Moskow memberikan data dan citra satelit kepada Iran; badan itu juga memperingatkan kemungkinan pasokan pesawat nirawak bermuatan bahan peledak.
Dokumen tersebut turut mencatat kendala industri pertahanan Rusia. Vympel memperingatkan keterlambatan pasokan komponen penting dapat menghambat perakitan peluncur dan berisiko mengganggu kontrak pertahanan negara.