
Ade Yuliasih Ajak Mahasiswa Mengenal Fungsi DPD
8 menit yang lalu
Hasto meminta kader GMNI memperkuat pemahaman ideologi dan kepemimpinan untuk mendorong perubahan.
Terbit · 1 min read

Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto mendorong kader Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) membangun kepemimpinan intelektual yang merujuk pemikiran Bung Karno. Menurut laporan ANTARA, ia menyampaikan dorongan itu untuk mendorong perubahan struktural dalam politik, ekonomi, dan kebudayaan.
Hasto menyampaikan hal tersebut saat menjadi narasumber penutup Lokakarya Kaderisasi Nasional GMNI di Lampung Selatan, Sabtu (31/10/2026). Forum yang berlangsung sejak 26 Oktober itu diikuti perwakilan cabang dari Aceh hingga Papua.
Menurut laporan yang sama, Hasto menyebut Marhaenisme sebagai landasan kebijakan struktural agar rakyat menjadi kekuatan produksi yang efektif bagi kesejahteraan sosial. Ia juga menilai perjuangan ideologis GMNI memerlukan kepemimpinan strategis.
Hasto, yang juga dosen Universitas Bung Karno, mengatakan kepemimpinan intelektual perlu dibentuk melalui dialog dengan peradaban dunia, pembelajaran dari pemimpin revolusioner, dan pemahaman atas persoalan struktural rakyat Indonesia. Ia meminta kader memperkuat pemahaman ideologi, kepemimpinan strategis, manajemen dan kultur organisasi, serta menjalankan fungsi organisasi.
Dalam lokakarya itu, Hasto mengkritik kultur patron-klien yang menurutnya masih terjadi di GMNI. Ia menyatakan kultur tersebut berkaitan dengan feodalisme dan perlu dikikis, sembari menekankan kesetaraan serta keberpihakan kepada rakyat tertindas.
Hasto juga mendorong kader mempelajari teori kritis untuk menelaah relasi kuasa di balik kebijakan. Ia menyarankan GMNI memperluas kajian teori sosial, termasuk pemikiran Pierre Bourdieu dan Hannah Arendt.
Mengenai geopolitik, Hasto menilai pemikiran Bung Karno tetap relevan untuk memahami perubahan konstelasi dunia dan merumuskan kepentingan nasional. Ia menyebut geografi bersifat tetap, sedangkan aktor dan susunan kekuasaan terus berubah.
Hasto mengatakan visi geopolitik Bung Karno mencakup upaya menjadikan Indonesia negara terkuat di Samudra Indonesia dan mengarahkan masa depan ke Pasifik. Ia juga menyebut Singapura sebagai contoh dalam supremasi hukum, meritokrasi, pendidikan, kesehatan, dan kepemimpinan teknokratis.