
Bareskrim Tetapkan 20 Korporasi Tersangka Karhutla
14 menit yang lalu
Korut menilai aktivitas militer di perbatasan meningkatkan risiko bentrokan, sementara Seoul dan Pyongyang berbeda pandangan soal insiden ranjau.
Terbit · 1 min read

Korea Utara menuding militer Korea Selatan sengaja memperburuk ketegangan di perbatasan dan menyatakan aktivitas militer Amerika Serikat serta Korea Selatan meningkatkan risiko bentrokan bersenjata mendadak. Menurut laporan ANTARA pada Jumat (30/10/2026), tudingan itu disampaikan juru bicara Kementerian Pertahanan Korea Utara.
Dalam pernyataan yang dikutip ANTARA, juru bicara tersebut menyebut kegiatan militer di perbatasan berisiko memicu konflik dan menimbulkan konsekuensi serius.
Menurut laporan kantor berita Korea Utara, KCNA, juru bicara tersebut menyalahkan Amerika Serikat dan Korea Selatan atas memburuknya keamanan di kawasan. Ia menilai kedua negara berupaya memperkuat keunggulan militer melalui perluasan aliansi dan latihan bersama.
Kementerian Pertahanan Korea Utara juga menyatakan latihan kedua negara semakin menyerupai kondisi pertempuran nyata dan mencakup serangan preventif. Menurut kementerian itu, kegiatan tersebut mengancam keamanan Korea Utara dan menjadi alasan untuk memperkuat langkah penanggulangan.
Pernyataan itu menyebut angkatan bersenjata Korea Utara akan menggunakan hak kedaulatannya terhadap tindakan yang dianggap mengancam keamanan negara. Kementerian tersebut juga mengatakan tidak akan membatasi langkah untuk mempertahankan sistem pencegahan dan mengendalikan situasi di Semenanjung Korea.
Laporan ANTARA menyebut tiga tentara Korea Selatan terluka akibat ledakan ranjau di zona demiliterisasi pada 21 September 2026; dua di antaranya mengalami luka serius. Investigasi bersama dengan Komando Perserikatan Bangsa-Bangsa membuat Korea Selatan menyimpulkan ranjau itu dipasang pasukan Korea Utara di sisi selatan garis demarkasi militer.
Korea Selatan menyebut insiden tersebut sebagai pelanggaran perjanjian gencatan senjata dan menuntut permintaan maaf serta tanggung jawab dari Korea Utara. Kim Yo Jong membantah tuduhan itu, menyebut temuan militer Korea Selatan sebagai rekayasa, dan menuduh insiden tersebut merupakan provokasi yang dibuat pihak Seoul sendiri.