
Kemnaker Verifikasi Mitra Penyelenggara MagangHub
14 menit yang lalu
Menkomdigi Meutya Hafid menyebut jalur kabel laut menuju Singapura sebagian besar melintasi perairan Indonesia.
Terbit · 2 min read

Menurut laporan CNN Indonesia, Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid menanggapi unggahan mantan anggota parlemen Singapura, Calvin Cheng, soal ketergantungan internet Indonesia pada Singapura.
Tanggapan itu disampaikan Meutya lewat akun Instagram pribadinya pada Selasa (27/10/2026). "Kita tidak perlu geram. Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL) yang mendarat di Singapura, tidak sampai dengan tiba-tiba. Sebagian besar jalurnya melalui perairan Indonesia," tulisnya.
Menurut Meutya, gangguan terhadap kabel laut itu juga berpotensi berdampak besar bagi konektivitas Singapura. "Jika terpotong atau dipotong, 80 persen kapasitas konektivitas Singapura juga terancam lumpuh," ujarnya.
Meutya turut menyoroti besarnya pasar digital Indonesia yang, menurutnya, berperan penting bagi investasi perusahaan teknologi global di Singapura. Ia menyebut jumlah penduduk Indonesia 47 kali lipat Singapura, dengan 267 juta orang telah terhubung ke internet. "Tanpa angka ini, investor perusahaan teknologi global berpotensi angkat kaki dari Singapura," tuturnya.
Dalam unggahan yang sama, Meutya menekankan bahwa infrastruktur digital seharusnya menjadi kepentingan bersama. "Kita tidak boleh berpikir kerdil. Infrastruktur digital adalah sektor yang perlu dijaga bersama, tidak hanya untuk kepentingan kedua negara tapi juga untuk konektivitas global," tandasnya.
Menurut laporan yang sama, pernyataan itu muncul setelah Calvin Cheng mengunggah infografis tentang ketergantungan internet Indonesia pada Singapura di akun X @calvinelcheng pada Minggu (25/10/2026). Infografis tersebut mengeklaim sekitar 90 persen lalu lintas internet internasional Indonesia melewati Singapura, melalui pusat data, layanan komputasi awan, dan kabel bawah laut.
Calvin menyertakan pertanyaan singkat yang menanyakan apakah koneksi itu perlu dipotong. Ia kemudian menambahkan bahwa Singapura tidak akan melakukan hal tersebut dan menyebut warga Singapura sebagai orang beradab yang taat hukum. Unggahan itu muncul di tengah sorotan terhadap kebijakan Indonesia mengurangi pasokan gas alam ke Singapura, yang dalam unggahan lain ia kritik terkait penghormatan terhadap perjanjian internasional.
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa pemangkasan ekspor gas ke Singapura tidak melanggar kontrak. Total ekspor gas pipa Indonesia ke Singapura mencapai 409,55 BBTUD dari Laut Natuna dan Sumatera, dan pemangkasan yang dilakukan sebesar 31 BBTUD atau sekitar 8 persen. "Jangan ajari Indonesia terhadap komitmen untuk menjaga menghargai kontrak. 31 BBTUD yang kita potong itu adalah masih di batas kontrak minimum," tegasnya dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta Pusat, Senin (26/10/2026).
Bahlil menyebut kebutuhan domestik yang mendesak untuk mengantisipasi dinamika geopolitik global dan menjamin bahan baku industri dalam negeri sebagai salah satu pemicu utama kebijakan itu. Menurutnya, pemangkasan juga dipengaruhi penghentian operasi fasilitas produksi gas untuk pemeliharaan serta upaya pemerintah mengamankan ketahanan energi nasional di tengah potensi krisis energi global.