
Malaysia Tawarkan Pesawat dan Helikopter untuk Karhutla
16 menit yang lalu
Strategi FORTRESS menargetkan pangkalan utama AS tetap beroperasi tanpa dukungan eksternal selama 90 hari.
Terbit · 2 min read

Pentagon merilis strategi FORTRESS yang menargetkan pangkalan utama Amerika Serikat di wilayah benua itu mampu menjalankan operasi esensial selama 90 hari tanpa dukungan eksternal. Menurut laporan CNBC Indonesia yang mengutip RT, target tersebut tercantum dalam dokumen yang ditinjau Fox News.
Laporan itu menyebut RT memberitakan strategi tersebut pada Selasa (27/10/2026). Dokumen FORTRESS juga mensyaratkan pasokan kritis militer memiliki sedikitnya dua rute pasokan atau jalur produksi yang memenuhi kualifikasi.
Menteri Perang AS Pete Hegseth telah mengumumkan inisiatif itu sejak bulan sebelumnya. Menurut laporan yang sama, strategi tersebut menyusul gangguan logistik militer AS di Timur Tengah setelah serangan Iran terhadap fasilitas Amerika dan lokasi lain yang digunakan pasukan AS; serangan itu disebut sebagai balasan atas serangan gabungan AS-Israel ke Iran.
Laporan CNBC Indonesia menyebut FORTRESS merupakan singkatan dari Federal Operations for Resilience, Troop Resources, Energy, Supply and Survivability. Sebuah memorandum pendirian resmi telah ditandatangani untuk mendukung penguatan aturan tersebut.
Hegseth menyebut lima pilar strategi itu: kemandirian energi, ketahanan rantai pasokan, cadangan strategis, perlindungan fisik dan keamanan siber, serta ketahanan di ruang angkasa dan spektrum elektromagnetik.
Perencana Pentagon, menurut laporan tersebut, ingin mengurangi ketergantungan pangkalan pada infrastruktur sipil yang dapat rusak dalam konflik besar. Opsi yang dipertimbangkan mencakup reaktor nuklir skala kecil dan bank baterai berkapasitas besar untuk jaringan mikro pangkalan jika pasokan listrik dari luar terputus.
Laporan yang sama menyebut strategi itu juga membayangkan pabrik sipil beralih memproduksi kebutuhan pertahanan dalam keadaan darurat. Fox News menilai AS perlu bersiap menghadapi berbagai kemungkinan situasi, termasuk gangguan jaringan listrik, rantai pasokan, dan infrastruktur penting akibat tindakan militer.
Laporan perombakan strategi itu muncul kurang dari dua minggu sebelum pemilihan paruh waktu AS. Laporan tersebut menyebut jajak pendapat menunjukkan Partai Republik berpotensi mengalami kerugian signifikan, sementara perang Iran dan kenaikan harga bahan bakar disebut menguatkan posisi kandidat oposisi; retorika Presiden Donald Trump juga dinilai memunculkan ekspektasi eskalasi konflik.