
Jepang Tanggapi Kebakaran Padang Rumput Mongolia
10 menit yang lalu
Beasiswa perlu menghubungkan akses pendidikan dengan pengembangan talenta dan kesiapan kerja.
Terbit · 1 min read

Menurut laporan ANTARA, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi Stella Christie menilai program beasiswa perlu dirancang dengan tujuan yang jelas agar memperluas akses pendidikan dan menyiapkan talenta sesuai kebutuhan pembangunan.
Dalam keterangannya di Jakarta, Stella menyoroti bahwa pengembangan ekosistem beasiswa tidak cukup hanya menyediakan pembiayaan. Ekosistem itu juga perlu menghubungkan akses informasi, pendidikan, pengembangan kompetensi, hingga kesiapan memasuki dunia kerja.
“Keadilan sosial berarti semuanya harus mendapatkan akses, semuanya bisa mengakses,” katanya.
Stella mencontohkan Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah sebagai program yang berorientasi memperluas akses pendidikan tinggi bagi mahasiswa dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi. Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi menyesuaikan mekanisme penyaluran program tersebut agar lebih banyak calon mahasiswa dari keluarga kurang mampu mendapat kesempatan melanjutkan pendidikan tinggi.
Menurut laporan yang sama, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi mengembangkan portal SatuBeasiswa untuk mempertemukan lembaga pemberi beasiswa dengan masyarakat yang mencari beasiswa. Langkah ini ditujukan untuk membantu masyarakat mengetahui peluang beasiswa yang tersedia.
Stella mengatakan pengembangan talenta tidak berhenti ketika seseorang menerima beasiswa atau menyelesaikan pendidikan. Ia menyebut pendampingan, mentoring, pengembangan keterampilan, pengalaman praktik, dan koneksi dengan dunia kerja sebagai bagian dari ekosistem beasiswa.
Pandangan Stella sejalan dengan Ketua Dewan Kehormatan Asosiasi Jaringan Beasiswa Indonesia Fasli Jalal, yang menilai beasiswa perlu dipandang sebagai investasi jangka panjang bagi pembangunan manusia. “Ketika seorang anak memperoleh kesempatan melanjutkan pendidikan, sesungguhnya kita tidak hanya mengubah nasib satu individu, tapi membuka kesempatan terjadi mobilitas sosial bagi dirinya, keluarganya, masyarakatnya, bahkan bagi generasi berikutnya,” ucap Fasli.