
Rosan Pastikan Investasi Singapura Tetap Terbuka
18 menit yang lalu
Kerja sama pertahanan diarahkan pada produksi bersama di Indonesia dan alih teknologi.
Terbit · 2 min read

Menurut laporan ANTARA, Duta Besar Turkiye untuk Indonesia Talip Kucukcan mengatakan Memorandum Badr diarahkan untuk mendorong Indonesia dan Turkiye memproduksi alat utama sistem persenjataan (alutsista) bersama di Indonesia serta menjalankan alih teknologi.
Kucukcan menyampaikan hal itu dalam wawancara singkat sebelum acara Hari Nasional Turkiye ke-103 di Jakarta, Kamis (29/10/2026) malam.
Ia mengatakan tujuan kerja sama dalam jangka menengah dan panjang adalah mengalihkan teknologi ke Indonesia agar kedua negara dapat memproduksi alutsista di Indonesia.
Mengenai pendanaan, Kucukcan mengatakan Indonesia dan Turkiye memiliki latar belakang keuangan yang kuat, merupakan anggota G20, dan memiliki perekonomian besar. Ia menyebut minat besar juga datang dari negara-negara Teluk, Timur Tengah, dan wilayah lain. Menurutnya, pendanaan bukan masalah; persoalan utama terletak pada kemitraan strategis yang telah dibangun.
Menurut Kucukcan, perusahaan pertahanan Indonesia dan Turkiye sedang bekerja sama untuk mewujudkan produksi bersama di Indonesia. Ia menyebut Turkiye telah mencapai tingkat kemandirian 80 persen dalam industri pertahanan dan ingin membagikan pengalamannya kepada Indonesia.
Ia menambahkan kontrak kerja sama telah terjalin di tingkat pimpinan maupun perusahaan. Memorandum Badr ditandatangani Indonesia, Turkiye, Qatar, dan Pakistan di Doha, Qatar, pada 21 Oktober 2026 untuk memperkuat kerja sama pertahanan dan kemitraan strategis.
Dokumen itu diharapkan menggabungkan kemampuan produksi militer masing-masing negara, meningkatkan integrasi, dan memperkuat industri pertahanan untuk memenuhi kebutuhan negara-negara sahabat. Memorandum tersebut juga diharapkan meningkatkan peluang ekonomi, memperluas kerja sama militer, memperdalam hubungan di sektor pertahanan, serta mendukung keamanan, stabilitas, dan tujuan bersama.
Pada 22 Oktober 2026, Kementerian Luar Negeri RI menyatakan Indonesia akan mengoptimalkan kemitraan tersebut untuk meningkatkan kemampuan produksi pertahanan nasional. Juru Bicara Kemlu RI Vahd Nabyl A. Mulachela mengatakan Indonesia bermitra dengan negara-negara yang dinilai memiliki kualifikasi dan kompatibilitas untuk mendukung peningkatan kemampuan produksi nasional. Indonesia juga menilai kemitraan itu didasarkan pada prinsip saling percaya, kesetaraan, timbal balik, dan kepentingan bersama serta sejalan dengan upaya diversifikasi mitra internasional.