
Audi Bangun Pabrik Senilai US$4 Miliar di Georgia
13 menit yang lalu
Pembekalan menyoroti pendampingan yang empatik, pendidikan karakter, dan lingkungan sekolah aman.
Terbit · 1 min read

Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono dan pendakwah Habib Husein Ja’far Al Hadar memberikan pembekalan kepada sumber daya manusia Sekolah Rakyat tentang cara mendidik dan mendampingi siswa. Menurut laporan CNNIndonesia.com, kegiatan itu menjadi bagian dari Penguatan SDM Sekolah Rakyat.
Pembekalan berlangsung di Harris Hotel and Conventions Cibinong City Mall, Kabupaten Bogor, Kamis (5/11/2026) malam. Pesertanya sekitar seribu orang dari seluruh Indonesia, termasuk guru bimbingan konseling, wali asuh, wali asrama, petugas keamanan, dan operator.
Dalam keterangannya, Habib Ja’far meminta pendamping memahami latar belakang serta pengalaman hidup siswa sebelum menilai perilaku mereka. Ia menyebut perilaku negatif dapat berkaitan dengan trauma dan kondisi keluarga, bukan semata-mata kenakalan.
Ia mendorong pendamping membangun kedekatan melalui komunikasi, empati, dan perhatian agar tidak mudah menghakimi atau memarahi siswa. Menurutnya, mendampingi mereka merupakan bentuk pengabdian kemanusiaan yang menuntut ketulusan dan profesionalitas.
Habib Ja’far juga menyampaikan tiga prinsip pendidikan, yaitu membangun karakter, menciptakan kompetisi positif melalui berbagai kegiatan, serta memberi teladan dalam keseharian. Ia menekankan lingkungan sekolah harus aman dan tidak menoleransi perundungan maupun pelecehan.
Agus Jabo meminta pendamping menerapkan filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara melalui prinsip momong, among, dan ngemong. Ia menjelaskan prinsip itu mencakup pengasuhan dengan kasih sayang, pendidikan melalui keteladanan, serta bimbingan untuk mengembangkan potensi anak.
Menurut Agus, Sekolah Rakyat mencakup pendidikan formal, pendidikan karakter, dan rehabilitasi sosial sebagai bagian dari upaya pemerintah mengentaskan kemiskinan berdasarkan Instruksi Presiden Nomor 8 Tahun 2025. Ia mengatakan siswa berasal dari keluarga miskin dan miskin ekstrem yang menghadapi keterbatasan, termasuk kurangnya perhatian dan rasa rendah diri.
Agus menilai pendampingan perlu berlangsung di luar kelas, dengan seluruh unsur sekolah menjadi panutan bagi siswa. Guru, wali asrama, dan wali asuh masing-masing berperan dalam pengetahuan dan keteladanan, pembentukan disiplin dan kemandirian, serta pemberian perhatian dan kasih sayang; keberhasilan program, katanya, juga mencakup karakter dan keterampilan, bukan hanya prestasi akademik.