
PSMS Bertekad Kembali Menang Lawan PSIS
12 menit yang lalu
Karbon dioksida, kondisi kulit, golongan darah, dan warna pakaian disebut memengaruhi ketertarikan nyamuk.
Terbit · 1 min read

Laporan ANTARA menjelaskan bahwa sebutan “darah manis” bukan penjelasan ilmiah mengapa nyamuk lebih sering menggigit seseorang. Nyamuk betina, menurut laporan itu, merespons sinyal kimiawi dan fisik dari tubuh, bukan rasa darah.
Laporan tersebut menyebut lima faktor yang dapat memengaruhi ketertarikan nyamuk: karbon dioksida, suhu tubuh dan keringat, bakteri kulit, golongan darah, serta warna pakaian. ANTARA merujuk pada Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) dan sejumlah sumber lain.
Karbon dioksida membantu nyamuk menemukan manusia dari jarak jauh. Orang dengan metabolisme tinggi, termasuk orang dewasa, perempuan hamil, atau orang yang baru berolahraga, disebut mengembuskan lebih banyak karbon dioksida.
Suhu tubuh yang hangat dan keringat juga dapat menarik nyamuk. Laporan ANTARA menyebut keringat mengandung senyawa seperti asam laktat, asam urat, dan amonia.
Bakteri alami pada kulit memecah senyawa dalam keringat dan menghasilkan aroma tubuh. Menurut laporan itu, komposisi bakteri yang berbeda pada setiap orang dapat membuat aroma sebagian orang lebih menarik bagi nyamuk.
Laporan tersebut juga menyebut beberapa penelitian entomologi menemukan nyamuk, khususnya Aedes aegypti, lebih sering hinggap pada orang bergolongan darah O dibandingkan orang bergolongan darah A atau B. Temuan itu disampaikan sebagai salah satu faktor yang mungkin berpengaruh, bukan penjelasan tentang rasa darah.
Warna pakaian turut disebut berperan karena nyamuk menggunakan penglihatan untuk menemukan sasaran. Pakaian gelap seperti hitam, biru tua, atau merah dapat membuat siluet tubuh lebih kontras dibandingkan pakaian terang atau netral.
Download the Hive app for live alerts and offline reading.